CIREBON — Persoalan lingkungan tak selalu bermula dari tindakan besar. Membiarkan sampah berserakan, misalnya, bisa menjadi kebiasaan ketika pelanggaran kecil terus dianggap lumrah. Dari persoalan itulah mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 7 Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) mencoba masuk melalui pendekatan psikologi sosial.

Program bertajuk Eco Mind: Upaya Kesadaran Ekologis dan Perilaku Pro-lingkungan Melalui Pendekatan Psikologi Sosial pada Remaja Desa Cangkoak digelar di SMP Asy-Syahida, Desa Cangkoak, Kecamatan Dukupuntang. Sasarannya siswa kelas 8A dan 8B.

Program tersebut digagas Saepul Auliyudin sebagai proyek individu KKM. Ia bekerja bersama anggota Kelompok 7 lainnya, yakni Adillah Solehah Putri, Nurcholis Septiyadi, Lufita Silvana, dan Fawazz.

Alih-alih mengulang pola penyuluhan lingkungan yang berisi daftar larangan, mahasiswa KKM itu mengajak para siswa melihat hubungan antara perilaku individu, lingkungan sosial, dan kebiasaan yang terbentuk di sekitarnya.

Di hadapan para siswa, Saepul memperkenalkan konsep Foot-in-the-Door Effect atau efek kaki-di-pintu. Konsep ini menjelaskan bagaimana seseorang dapat berawal dari tindakan kecil, kemudian perlahan meningkatkan toleransi terhadap tindakan yang lebih besar.

Dalam konteks lingkungan, kebiasaan membuang satu sampah sembarangan dapat menjadi contoh sederhana. Ketika tindakan tersebut terus dibiarkan, batas mengenai perilaku yang dianggap salah bisa bergeser. Pada titik tertentu, lingkungan yang semula dianggap harus bersih justru dipandang biasa ketika mulai dipenuhi sampah.

Konsep kedua yang diperkenalkan adalah Broken Windows Theory atau teori jendela pecah. Teori ini digunakan untuk melihat kondisi ruang publik di desa. Lingkungan yang sudah tampak kotor atau tidak terawat dapat memberi kesan bahwa tempat tersebut bebas diperlakukan semaunya.

Pendekatan itu membuat persoalan lingkungan tidak semata-mata ditempatkan sebagai persoalan sampah atau kebersihan. Mahasiswa mengajak siswa melihat bagaimana perilaku seseorang dapat dipengaruhi oleh kondisi sosial dan perilaku orang lain di sekitarnya.

Melalui Eco Mind, KKM Kelompok 7 berharap kepedulian terhadap lingkungan tidak berhenti sebagai pengetahuan yang diperoleh di ruang kelas. Kesadaran itu diharapkan berlanjut menjadi kebiasaan sehari-hari dan, pada akhirnya, membentuk norma bersama di kalangan remaja Desa Cangkoak.

Bagi mahasiswa KKM, perubahan perilaku lingkungan tidak cukup dibangun dengan mengatakan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Perubahan juga membutuhkan pemahaman tentang mengapa seseorang melakukan sesuatu dan bagaimana lingkungan sosial ikut membentuk pilihan tersebut. ***