KUNINGAN – Tutut yang selama ini dikenal sebagai pangan tradisional masyarakat ternyata dinilai memiliki potensi dalam mendukung upaya penanganan stunting.

Hal itu disampaikan Sekretaris Daerah Jawa Barat, Dr. Herman Suryatman, saat menghadiri Festival BUMDes sekaligus kegiatan “Ngecrok Tutut” di kawasan Waduk Darma, Kabupaten Kuningan, Minggu, (30/8/2026).

‎Dalam sambutannya, ia menilai tutut memiliki kandungan protein hewani yang cukup tinggi, selain kalsium dan zat besi. Kandungan tersebut, menurutnya, dapat menjadi salah satu sumber nutrisi yang mendukung pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, termasuk ibu hamil.

‎“Untuk mengatasi stunting ku (oleh) Tutut,” ujarnya.

‎Ia menjelaskan, salah satu kunci dalam mencegah munculnya kasus stunting baru yakni memastikan ibu hamil tidak mengalami Kekurangan Energi Kronis (KEK). Pemenuhan asupan protein hewani menjadi bagian penting dalam mendukung kondisi tersebut.

‎“Kalau tidak mau ada stunting, zero new stunting, tidak ada stunting yang baru, pastikan semua ibu hamil tidak ada yang kekurangan energi kronis atau KEK,” katanya.

‎Herman menyebut protein hewani tidak hanya berasal dari telur, daging, susu dan ikan, tetapi juga dapat diperoleh dari tutut. Ia bahkan mengaku telah mencari dan mempelajari kandungan nutrisi tutut sebelum menyampaikan hal tersebut.

‎“Protein hewani itu telur, daging, susu, ikan, termasuk di dalamnya tutut. Itu luar biasa,” ungkapnya.

‎Menurutnya, potensi tutut di kawasan Waduk Darma juga cukup besar untuk dikembangkan menjadi komoditas pangan sekaligus produk unggulan daerah. Ia menyebut produksi tutut di kawasan tersebut dapat mencapai sekitar 400 kilogram per hari.

‎“Ini luar biasa. Murah meriah dan mudah didapatkan di desa. Komoditas di sini produksinya bisa sampai 400 kilo sehari,” tuturnya.

‎Namun demikian, ia menekankan bahwa potensi tersebut harus diikuti dengan tata kelola usaha yang baik. Produk tutut yang akan dipasarkan secara lebih luas harus memiliki jaminan mutu, kualitas yang terjaga, serta memenuhi aspek kesehatan dan kehalalan.

‎Ia mendorong adanya sertifikasi dari instansi terkait, termasuk Dinas Kesehatan dan sertifikasi halal, sehingga tutut dapat dikemas menjadi produk yang memiliki nilai jual dan daya tarik wisata.

‎“Manajemen produksi harus diperhatikan. Kita harus memastikan produk yang kita buat betul-betul punya jaminan mutu, kualitasnya terjaga,” katanya.

‎Orang nomor tiga di Jawa Barat itu bahkan melihat potensi tersebut dapat menjadi branding bagi Waduk Darma. Keunikan tradisi “ngecrok tutut” dapat dikembangkan menjadi bagian dari daya tarik wisata sekaligus produk ekonomi masyarakat sekitar.

‎Ia mencontohkan, tutut Waduk Darma dapat dipromosikan sebagai kuliner khas yang sehat dan aman setelah melalui proses pengolahan serta sertifikasi yang diperlukan.

‎“Bisa jadi branding. Bahwa ngecrok tutut di Waduk Darma dijamin sehat,” ujarnya.

‎Lebih lanjut, Herman menyampaikan bahwa prevalensi stunting di Jawa Barat terus mengalami penurunan. Ia menyebut angka stunting Jawa Barat yang sebelumnya mencapai 21,7 persen kini turun menjadi 15,9 persen.

‎Jawa Barat, lanjutnya, ditargetkan mampu menekan angka tersebut hingga satu digit pada 2026. “Target kami 2026 ini mudah-mudahan kita bisa turun sampai satu digit, di bawah 10 persen,” tutupnya.