KUNINGAN — Dosen Fakultas Ilmu Keislaman Universitas Islam Al-Ihya Kuningan meneliti dan mengembangkan Beas Perelek sebagai instrumen jaring pengaman sosial di tingkat desa.

Penelitian mendalam dan pengembangan program tersebut mendapat dukungan berupa hibah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi tahun 2026.

Asep Nugraha, selaku ketua tim peneliti menerangkan, pengembangan penelitian itu berangkat dari pengamatannya tentang kearifan lokal dan persoalan nyata di masyarakat. Adapun lokasi yang dijadikan objek penelitian tersebut yaitu di Desa Ciasih Kecamatan Nusaherang.

“Penelitian ini berupaya melihat kembali potensi tradisi gotong royong masyarakat Sunda dalam menghadapi berbagai perubahan sosial dan ekonomi,” kata Asep, didampingi anggota tim peneliti yakni, Imam Dwi Putranto, dan Dr. Arif Fauzan, Rabu (26/8/2026).

Menurutnya, Beas Perelek merupakan tradisi pengumpulan beras secara sukarela dari masyarakat yang kemudian diperuntukkan bagi warga yang membutuhkan. Namun, perkembangan zaman membuat praktik tersebut menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari urbanisasi, perubahan nilai sosial, akulturasi budaya, hingga semakin kuatnya kecenderungan individualisme di tengah masyarakat.

“Penelitian kami juga melihat perlunya model pengelolaan Beas Perelek yang lebih sistematis. Perubahan struktur keluarga, migrasi ekonomi, serta keterbatasan akses terhadap bantuan sosial formal menjadi bagian dari kondisi yang melatarbelakangi penelitian tersebut,” tuturnya.

Sesuai latar belakang keilmuan peneliti, tradisi Beas Perelek tidak hanya dikaji dari sisi sosial dan budaya, melainkan dianalisis lebih dalam sesuai perspektif hukum ekonomi syariah yaitu prinsip ta’awun atau tolong-menolong dan keadilan distributif.

“Pendekatan ini diharapkan dapat menghasilkan model yang tetap mempertahankan nilai gotong royong sekaligus sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini,” tuturnya.

Asep menjelaskan bahwa penelitian tersebut dilaksanakan melalui lima tahapan, yaitu studi pendahuluan dan analisis kebutuhan, perancangan model awal, validasi ahli dan pemangku kepentingan, uji coba terbatas di tingkat RT/RW, serta diseminasi hasil dan penyusunan rekomendasi kebijakan.

Penelitian yang juga melibatkan mahasiswa Perbankan Syariah (PSY) itu, memasuki tahap pengumpulan data, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Menurutnya, penelitian yang dirancang sampai tahun 2029 itu untuk tahap awal pada 2025–2026 difokuskan pada riset dasar mengenai revitalisasi Beas Perelek.

Selanjutnya, kata Asep, penelitian akan diarahkan pada penguatan sinergi Beas Perelek dengan sistem perlindungan sosial desa, hingga pengembangan replikasi model dan digitalisasi tata kelola. Karena hal itu, penelitian tersebut tidak hanya mempertahankan Beas Perelek sebagai tradisi masyarakat, tetapi juga mengembangkan potensinya sebagai bagian dari mekanisme solidaritas sosial.

“Kearifan lokal ini diharapkan dapat menjadi salah satu pendekatan dalam memperkuat perlindungan kelompok rentan dan ketahanan sosial masyarakat desa,” tuturnya.

Di tempat yang sama, Dr. Arif Fauzan, selaku Dekan Fakultas Ilmu Keislaman Unisa Kuningan mengapresiasi inovasi dan pengembangan yang dilakukan para dosen. Menurutnya, penelitian tersebut sekaligus memperkuat peran UNISA Kuningan dalam menghadirkan riset yang dekat dan berdampak terhadap kehidupan masyarakat.

“Penelitian ini mengangkat potensi lokal serta mendorong lahirnya model yang dapat memberikan manfaat secara lebih luas bagi pembangunan sosial di tingkat desa,” tuturnya.