
KUNINGAN – Universitas Islam Al-Ihya Kuningan kembali menggelar Wisuda ke-XI untuk program sarjana dan magister, Sabtu (7/11/2026). Sebanyak 231 wisudawan resmi dilepas untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
Rektor UNISA Kuningan, Dr. Nurul Iman Hima Amrullah, menegaskan bahwa penyelamatan toga bukan sekadar formalitas akademik, melainkan tanda wisudawan telah berhasil menaklukkan satu tahapan penting dalam perjalanan kehidupan di kampus.
“Karena itu kami ucapkan selamat kepada seluruh wisudawan. Ini capaian yang luar biasa,” tuturnya.
Secara khusus, Rektor juga berterima kasih kepada para orang tua/wali wisudawan yang sudah mempercayakan anak-anaknya menimba ilmu di Al-Ihya. Menurutnya, kepercayaan masyarakat merupakan dukungan nyata sehingga Unisa Kuningan terus melahirkan para sarjana dan magister setiap tahun
“Keberhasilan para wisudawan yang duduk tegak di ruangan ini adalah buah manis dari tetesan keringat, pengorbanan yang tak terhitung jumlahnya, serta doa-doa di sepertiga malam yang tak pernah putus dari bapak dan ibu sekalian,” tuturnya.
Ia mengingatkan, para wisudawan akan melangkah ke dunia nyata yang sedang mengalami pergeseran masif seiring perkembangan teknologi. Perkembangan Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan, otomatisasi sistem, dan big data telah meredefinisi lanskap lapangan kerja global dan nasional.
“Dunia industri dan masyarakat tidak lagi hanya melihat selembar ijazah atau seberapa tinggi IPK. Pertanyaan utama yang akan saudara hadapi adalah Solusi riil apa yang dapat dihadirkan untuk memecahkan masalah di sekitar kita” tegasnya.
Menurutnya, di tengah ketidakpastian ekonomi global dan perubahan iklim kerja yang cepat, gelar sarjana dan magister bukanlah jaminan titik aman, melainkan lisensi untuk belajar lebih keras lagi.
Kemampuan reskilling dan upskilling, berpikir kritis, kecerdasan emosional, serta ketahanan mental menjadi kunci vital agar wisudawan tidak sekadar bertahan, melainkan menjadi pemimpin di era baru.
“Namun, di tengah gelombang modernisasi dan kecerdasan buatan yang kian canggih, ada satu hal yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh algoritma apa pun yakni akal budi, adab, dan empati kemanusiaan,” ungkapnya.
Sebagai lulusan UNISA Kuningan, menurutnya, wisudawan sudah dibekali identitas akademik yang unik, tidak hanya ahli di bidang keilmuan, tetapi juga insan berakhlakul karimah.
Karena itu pihaknya menekankan untuk menjadi para pembelajar sepanjang hayat, tidak berhenti membaca, meneliti, dan memperluas wawasan. Para alumni diminta menjadikan setiap ruang kehidupan sebagai kelas, dan setiap insan sebagai guru.
“Jadilah pencipta peluang. Jangan hanya menjadi pencari kerja (job seeker). Berani menciptakan lapangan kerja baru dan memberikan solusi atas masalah sosial ekonomi,” tuturnya.***




