
KUNINGAN- Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar baru saja membagikan SK penugasan kepada 50 kepala sekolah di Halaman Kantor Pemkab Kuningan, Senin (2/11/2026). Di atas kertas, agenda ini adalah rutinitas birokrasi: mengisi kekosongan kursi kepemimpinan lewat 40 promosi dan 10 mutasi. Namun, di balik seremoni tersebut, Dian justru melempar alarm darurat yang mengusik kenyamanan dunia pendidikan daerah.
Alih-alih sekadar berpesan soal administratif, Dian menyoroti dua beban berat yang mengimpit guru: krisis literasi fungsional dan tekanan finansial yang berujung pada jeratan pinjaman online (pinjol).
Berdasarkan data survei yang dikantonginya, sekitar 42 persen dari perkiraan total 8.000 guru di Kuningan terjebak dalam pusaran pinjol. Angka ini bukan sekadar statistik dingin, melainkan indikator rapuhnya kesejahteraan yang mengancam konsentrasi pedagogik di ruang-ruang kelas. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan langsung ditugaskan turun tangan—bukan sekadar mendata, melainkan merumuskan edukasi pengelolaan keuangan agar urusan perut tidak mereduksi profesionalitas pendidik.
Tak berhenti di situ, Dian juga menyoroti ironi literasi. Banyak pelajar, bahkan tenaga pengajar, yang terjebak dalam “buta huruf fungsional”—lancar melafalkan teks, tetapi mandul dalam menarik kesimpulan dan merajut argumentasi. Bagi Dian, persoalan ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan mendesak guru bekerja lebih keras, melainkan menuntut perombakan sistemik: mulai dari pangkas beban administrasi, pemerataan guru profesional, hingga revitalisasi fisik ratusan sekolah yang dijadwalkan tahun depan.
Di penghujung arahannya, di tengah rencana seminar nasional Hari Guru yang bakal melibatkan 5.000 peserta, Dian menitipkan satu kalimat reflektif bagi para kepala sekolah baru: “Profesi pendidik mungkin tidak menjadikan kaya materi, tetapi kaya hati.”
Sebuah pengingat pahit di tengah krisis finansial, bahwa di pundak para guru yang terimpit pinjol itulah, masa depan generasi Kuningan dipertaruhkan. ***




