Menurut Leyla, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah makanan yang tersalurkan, tetapi juga dari tingkat kepercayaan publik terhadap layanan yang diberikan. “Program ini tidak hanya soal distribusi makanan, tetapi juga soal kepercayaan masyarakat terhadap kualitasnya,” kata dia.
Sementara itu, sektor kelautan dan perikanan melihat MBG sebagai peluang untuk mengoptimalkan potensi lokal. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Utara, Tienneke Adam, menyebut sumber daya perikanan daerah dapat menjadi salah satu penopang utama pemenuhan gizi.
“Ikan merupakan sumber protein yang mudah diolah dan sangat relevan untuk mendukung program ini. Selain meningkatkan gizi, juga dapat menggerakkan ekonomi lokal,” ujarnya.
Selama pelatihan, peserta juga mengikuti simulasi kemitraan, diskusi kelompok, serta pemetaan potensi daerah. BGN mendorong agar hasil pelatihan tidak berhenti pada forum diskusi, tetapi diterjemahkan ke dalam kerja sama konkret di tingkat lokal.
Melalui kegiatan ini, BGN berharap terbentuk komitmen jangka panjang antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat. Sinergi tersebut dinilai penting untuk memastikan Program Makan Bergizi Gratis di Manado berjalan konsisten dan berkelanjutan.
BGN juga menargetkan agar pelatihan serupa dapat diperluas ke daerah lain sebagai bagian dari strategi nasional peningkatan kualitas sumber daya manusia. Dengan penguatan peran masyarakat dan ekonomi lokal, MBG diharapkan tidak hanya menjadi program bantuan, tetapi juga instrumen pembangunan sosial yang berdampak luas. (Frans)
