Bidang kesehatan tak luput dari perombakan. dr. Fahmi Nurdin dilantik sebagai Wakil Direktur Bidang Pelayanan RSUD “45”, sementara Emi Martini mengisi posisi Wakil Direktur Administrasi Umum dan Keuangan di rumah sakit yang sama. Adapun RSUD Linggajati kini dipimpin oleh dr. Hj. Eva Maya sebagai direktur.
Di tingkat pengawas atau eselon III.b, daftar mutasi semakin panjang. Nama-nama seperti dr. Yanuar Firdaus Sukardi (Kepala Bidang Pelayanan RSUD “45”), Nana Suhendra (Kabid Informasi dan Komunikasi Publik Diskominfo), serta Roro Ening Hartini (Kabid Aplikasi Informatika Diskominfo) menunjukkan bahwa sektor layanan publik dan digital menjadi salah satu fokus pergeseran.
Secara administratif, keputusan bupati ini mengakhiri jabatan lama para ASN dengan ucapan terima kasih, lalu menetapkan jabatan baru berikut tunjangan struktural sesuai Peraturan Presiden Nomor 26 Tahun 2007. Namun di luar aspek administratif, mutasi ini memantik beragam tafsir di kalangan birokrasi dan publik.
Sejumlah ASN yang enggan disebutkan namanya menyebut rotasi kali ini sebagai “mutasi sapu jagat”. Bukan hanya karena jumlahnya besar, tetapi juga karena menyentuh banyak posisi yang sebelumnya relatif stabil. “Ini seperti reset besar-besaran. Banyak yang kaget, terutama mereka yang merasa masih nyaman di posisi lama,” ujar seorang pejabat eselon III.
Pertanyaan klasik kembali mengemuka, sejauh mana mutasi ini berbasis pada merit system? Tanpa transparansi evaluasi kinerja, rotasi massal rawan dipersepsikan sebagai bentuk penyesuaian loyalitas, bukan semata peningkatan profesionalisme.
Dengan skala mutasi sebesar ini, tahun 2026 akan menjadi ujian bagi para pejabat yang baru dilantik. Bagi sebagian ASN, ini momentum pembuktian. Bagi yang lain, ini adalah sinyal bahwa di Kuningan, kursi jabatan tak pernah benar-benar aman. (Ali)
