
KUNINGAN – Bupati Kuningan, Dr. Dian Rachmat Yanuar, menyebut pergantian Tugu Bola Dunia menjadi Tugu Kuda di Jalan Soekarno-Hatta dilakukan dengan mempertimbangkan aspirasi dan masukan dari masyarakat.
Dian menjelaskan, keberadaan Tugu Bola Dunia sebelumnya sempat menuai beragam tanggapan dari masyarakat. Salah satu masukan yang muncul yakni mengenai tidak adanya ikon kuda yang selama ini dinilai memiliki keterkaitan dengan identitas dan kekhasan Kabupaten Kuningan.
“Karena memang banyak masukan di masyarakat, ‘Oh ini tugu kudanya enggak ada,’” ujarnya, Rabu, (27/8/2026).
Menurutnya, pergantian ikon tersebut juga menjadi bagian dari upaya menghadirkan simbol yang lebih mudah dipahami dan merepresentasikan kearifan lokal Kuningan.
Ia mengatakan, Kuningan selama ini telah memiliki sejumlah ikon daerah yang menjadi penanda sekaligus bagian dari identitas wilayah. Di antaranya Tugu Angklung, Tugu Sajati, serta sejumlah tugu yang dibangun pada masa pemerintahan sebelumnya.
“Angklung ada, Tugu Sajati ada. Tugu ikan di zaman Bu Uce, Pak Aang itu bagus. Kita pelihara. Tugu Sajati juga kita teruskan,” katanya.
Ia menilai, pembangunan maupun penataan ikon daerah selayaknya tidak hanya mempertimbangkan aspek estetika, tetapi juga mampu mencerminkan karakter dan kekhasan daerah.
Oleh karena itu, pihaknya membuka ruang terhadap berbagai usulan masyarakat sepanjang gagasan tersebut memiliki nilai kearifan lokal dan dapat memperkuat identitas Kuningan.
“Sepanjang itu kearifan lokal mencerminkan kekhasan Kuningan, ya kita tidak ada masalah seperti itu,” tegasnya.
Terkait sumber pembiayaan pembangunan sejumlah fasilitas publik, Dian juga menegaskan bahwa pembiayaan tidak selalu harus bersumber dari APBD. Menurutnya, kontribusi non APBD tetap dimungkinkan selama dilakukan sesuai ketentuan dan memiliki mekanisme yang jelas.
“Yang penting APBD, non-APBD, APBD pun kalau untuk kepentingan masyarakat, kepentingan publik kan enggak masalah. Asal tercatat, aturannya jelas, SOP nya jelas,” tutupnya.





