KUNINGAN – Peringatan Hari Jadi Kabupaten Kuningan 2026 mencatat satu perubahan dalam tradisi tahunannya. Pemerintah Kabupaten Kuningan memperluas agenda ziarah dari biasanya hanya beberapa makam yang tersebar di Kabupaten Kuningan kini 21 makam bupati terdahulu semua menjadi tujuan, baik di Kabupaten Kuningan maupun luar Kabupaten Kuningan.

Bupati Kuningan, Dr. Dian Rachmat Yanuar, mengatakan perluasan ziarah tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada para pemimpin yang pernah memegang kendali pemerintahan daerah.

“Jadi kita menyampaikan pesan ke masyarakat untuk mengenang, menghargai jasa para pendahulu. Tidak hanya cukup mengenang, tapi juga meneruskan semangat perjuangan untuk membangun Kuningan,” kata Dian seusai berziarah ke makam mantan Bupati Kuningan, Acep Purnama, Kamis (27/8/2026).

Menurut Dian, agenda ziarah tidak mungkin dilakukan sekaligus karena lokasi makam yang tersebar. Pada Kamis, rombongan mengunjungi empat makam. Ziarah berikutnya akan dilakukan dengan membagi pejabat Pemerintah Kabupaten Kuningan ke dalam beberapa tim.

Sejumlah tim akan bergerak ke luar daerah, antara lain Bandung, Cirebon dan Tasikmalaya. Mereka dijadwalkan mendatangi makam mantan bupati yang dimakamkan di wilayah tersebut.

“Besok full dari pagi sampai siang. Ada yang ke Bandung ziarah ke makam mantan Bupati Karli Akbar, tim dari para kepala dinas dan pejabat, ada yang ke Cirebon ziarah ke makam pak Djupri Pringadi, ada yang ke Tasik ke makam mantan bupati Yeng DS Partawinata,” ujar Dian.

Bukan Sekadar Ziarah

Dian mengatakan, pola ziarah pada peringatan Hari Jadi Kuningan sebelumnya umumnya hanya menyasar sekitar empat sampai lima makam mantan bupati yang berada di Kuningan. Tahun ini, cakupannya diperluas menjadi 21 makam.

Bagi Dian, perubahan tersebut penting untuk mengingatkan bahwa pembangunan Kuningan tidak dimulai dari pemerintahan hari ini. Ada jejak kebijakan, kerja dan pengabdian para pemimpin sebelumnya yang ikut membentuk daerah hingga seperti sekarang.

“Semua telah memberikan sesuatu yang berharga untuk Kabupaten Kuningan sehingga Kuningan seperti saat ini,” katanya.

Ziarah juga menjadi cara untuk menghubungkan sejarah pemerintahan dengan generasi sekarang. Dian berharap masyarakat tidak sekadar mengenal nama para mantan bupati, tetapi juga memahami bahwa pembangunan daerah merupakan proses panjang yang dilanjutkan dari satu periode pemerintahan ke periode berikutnya.

Pesan itu kemudian ia kaitkan dengan pembangunan Kuningan saat ini. Menurut Dian, pemerintah tidak mungkin bekerja sendirian. Stabilitas sosial dan kerja sama masyarakat diperlukan agar pembangunan dapat berjalan.

“Kuningan harus damai, harus saling membantu, bekerja sama. Pembangunan itu tidak cukup oleh pemerintah saja, tapi oleh seluruh elemen masyarakat,” ujarnya.

Mengenang Guru dan Orang Tua Politik

Di antara makam yang diziarahi, terdapat nama-nama yang memiliki hubungan personal dengan Dian.

Ia menyebut mantan Bupati Kuningan H. Aang Hamid Suganda sebagai salah satu sosok yang memberi banyak pengalaman dalam perjalanan birokrasi dan pemerintahan.

Dian juga menyebut Bu Utje sebagai sosok yang membentuk karakter dan rasa empatinya. Sementara Acep Purnama, yang makamnya diziarahi pada Kamis, dikenangnya sebagai sosok yang memiliki posisi khusus dalam perjalanan hidupnya.

Bagi Dian, hubungan itu membuat agenda ziarah memiliki makna lebih dari sekadar bagian dari rangkaian Hari Jadi.

“Biasakan kita tidak melupakan jasa para pendahulu,” kata dia.

Perluasan ziarah ke 21 makam tersebut sekaligus menjadi catatan baru dalam peringatan Hari Jadi Kuningan 2026. Pemerintah tidak hanya merayakan usia daerah, tetapi juga kembali menengok orang-orang yang pernah menjalankan roda pemerintahannya. ***