Ketua BAZNAS RI, Prof. Dr. KH. Noor Achmad, menyambut hangat “tangan” dari Kuningan tersebut. Menurutnya, fase tanggap darurat di wilayah terdampak memang telah usai, namun masa pemulihan (recovery) justru merupakan palagan yang lebih berat. Dana dari Kuningan ini direncanakan akan segera dikonversi menjadi pembangunan fisik dan pemberdayaan ekonomi.
“Fokus kami sekarang adalah membangun Hunian Sementara (Huntara) dan mushola sementara. Mengingat sebentar lagi kita akan memasuki bulan Ramadhan, warga sangat membutuhkan ruang ibadah untuk salat tarawih,” ungkap Noor Achmad.
Selain infrastruktur ibadah, BAZNAS RI juga berkomitmen memulihkan layanan pendidikan yang sempat lumpuh. Seragam, buku, hingga bangunan sekolah darurat menjadi prioritas agar anak-anak di Aceh dan Sumatra tidak kehilangan masa depan mereka. Tak ketinggalan, pelatihan UMKM bagi warga yang kehilangan mata pencaharian akibat banjir juga disiapkan agar mereka bisa kembali berdikari.
Langkah yang diambil BAZNAS dan Pemerintah Kabupaten Kuningan ini disebut Noor Achmad sebagai teladan bagi daerah lain di Indonesia. Di saat daerah seringkali hanya fokus pada masalah internal masing-masing, Kuningan menunjukkan bahwa kepedulian terhadap bencana tidak boleh terhenti di batas kabupaten atau provinsi.
Solidaritas ini menjadi catatan penting di penghujung tahun 2025. Bahwa di balik hiruk-pikuk pembangunan dan dinamika politik, masih ada ruang luas bagi rasa kemanusiaan universal. Warga Kuningan telah mengirimkan pesan kuat ke Sumatra: bahwa mereka tidak sendirian menghadapi lumpur dan sisa banjir, karena ada doa dan dukungan nyata yang mengalir dari Jawa Barat.
Donasi 800 juta rupiah ini mungkin tidak akan menghapus seluruh trauma akibat bencana, namun setidaknya ia akan menjadi fondasi bagi berdirinya tiang-tiang mushola dan dinding-dinding rumah sementara, tempat para penyintas kembali merajut harapan di tahun baru. (ali)
