KUNINGAN — Di tengah lanskap hutan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), sekelompok pelajar SMA Negeri 3 Kuningan menjalani proses pembentukan diri yang tak ringan. Selama lima hari, mereka ditempa melalui Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) angkatan ke-31 Ekstrakurikuler Pendaki Gunung dan Penempuh Rimba (Candradimuka). Kegiatan ini diikuti 10 peserta dan menjadi pintu awal sebelum mereka resmi menyandang status anggota organisasi pecinta alam tersebut.
Ketua Umum Candradimuka SMAN 3 Kuningan, Yazid, menegaskan bahwa Diklatsar bukan hanya agenda rutin, melainkan tahapan krusial dalam membentuk fondasi keterampilan dan karakter calon anggota. “Ini tahapan wajib. Peserta tidak hanya diuji fisik, tetapi juga cara berpikir dan bertindak saat berada di alam,” ujar Yazid, Kamis, (25/12/2025).
Materi pelatihan difokuskan pada navigasi darat dan mountaineering, dua kemampuan dasar yang menjadi tulang punggung aktivitas kepecintaalaman. Peserta dilatih membaca peta, menggunakan kompas, menentukan azimut, hingga memahami kontur medan. Di sisi lain, mountaineering diberikan melalui praktik penggunaan tali, simpul, teknik naik-turun tebing, serta manajemen risiko di medan terjal.
Tak berhenti di aspek teknis, Diklatsar juga membekali peserta dengan pengetahuan survival, pengenalan botani dan zoologi praktis, serta pemahaman etika beraktivitas di kawasan konservasi. Seluruh materi disampaikan melalui kombinasi teori singkat dan praktik lapangan intensif metode yang, menurut panitia, lebih efektif menanamkan kesadaran dan tanggung jawab.
Yazid menyebut, tekanan fisik dan mental selama kegiatan justru menjadi bagian penting dari proses pembelajaran. “Di alam, ego harus ditinggalkan. Yang utama adalah kerja sama dan keselamatan tim,” katanya.
