
KUNINGAN — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kuningan sedang menaruh harapan besar pada jempol kreatif generasi Z. Lewat sayembara foto bertajuk “Tugu Angklung”, institusi pendidikan ini mencoba merayu pelajar SMP hingga SMA untuk lebih dekat dengan identitas daerahnya melalui bidikan kamera ponsel maupun profesional.
Bukan sekadar ajang selfie, kompetisi ini mewajibkan format berkelompok, sebuah simbolisasi harmoni yang menjadi ruh dari permainan angklung itu sendiri. “Kami ingin mendorong kreativitas sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap budaya lokal,” tulis akun resmi @disdikbud_kabkuningan.
Budaya dalam Bingkai Digital
Aturannya cukup ketat namun adaptif. Peserta bebas berekspresi selama menjunjung nilai kesopanan dan menghindari penyuntingan foto yang berlebihan. Disdikbud tampaknya ingin kejujuran momen di sekitar Tugu Angklung tetap menjadi jualan utama. Menariknya, seluruh karya wajib nangkring di akun Instagram resmi sekolah masing-masing, sebuah langkah cerdas untuk melakukan kampanye digital “Kuningan Melesat” secara kolektif.
Hadiah berupa tabungan sekolah dan piagam penghargaan telah disiapkan sebagai stimulus. Namun, bagi pemerintah, hadiah sesungguhnya adalah ketika ribuan pelajar mulai mengintip sudut-sudut tugu tersebut, lalu menyadari bahwa warisan budaya mereka bisa tampil sangat keren di layar digital.
Menanti Juara
Batas akhir pengunggahan karya ditetapkan pada 26 April 2026, dengan pengumuman pemenang di penghujung bulan. Bagi Kuningan, lomba ini adalah pembuktian: bahwa merawat tradisi bisa dilakukan dengan cara yang sangat “kekinian”, tanpa harus kehilangan esensi kearifan lokalnya. (ali)




