Wahyu sendiri tak luput dari radar apresiasi. Ia menerima penghargaan sebagai “Tokoh Tani Modern” dalam ajang IJTI Cirebon Raya Award 2025. Namun, bagi pria yang dikenal egaliter ini, tumpukan piagam itu hanyalah efek samping. “Penghargaan itu konsekuensi, bukan tujuan. Tujuan kita tetap memastikan piring masyarakat Kuningan tetap terisi dan kesejahteraan petani meningkat,” ujarnya.
Wahyu menyadari bahwa tahun 2026 akan membawa tantangan baru yang lebih kompleks. Visi “Kuningan MELESAT” (Maju, Empowering, Lestari, Agamis, dan Tangguh) menuntut Diskatan untuk lebih adaptif. Peran penyuluh pertanian dan Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) disebutnya sebagai garda terdepan yang memegang peran vital dalam menghadapi ancaman hama dan fluktuasi harga komoditas.
Suasana refleksi yang dihadiri juga oleh anggota Dharma Wanita Persatuan (DWP) di bawah pimpinan Rika Farliani itu ditutup dengan makan bersama. Di balik meja panjang penuh hidangan lokal, sekat antara pimpinan dan staf lapangan sejenak luruh.
Bagi Diskatan Kuningan, menutup tahun dengan prestasi adalah cara terbaik untuk membayar kepercayaan publik. Namun, di balik selebrasi itu, ada pesan tersirat yang dibawa Wahyu ke meja makan, bahwa kedaulatan pangan tidak dibangun di atas podium penghargaan, melainkan di atas lumpur sawah dan keringat para pendamping petani yang setia menanti fajar di tahun depan. (ali)
