Di balik kemilau medali tersebut, tersimpan proses latihan yang spartan. Kepala SDN Unggulan Kuningan, Uus Susanto, menyadari bahwa prestasi di gelanggang silat adalah pantulan dari kedisiplinan di sekolah.
Baginya, pencak silat adalah media pembangunan karakter yang jauh lebih efektif daripada sekadar teori di ruang kelas. Anak-anak diajarkan bukan untuk menjadi jagoan, melainkan pesilat yang menghargai lawan dan memahami batas kekuatan diri sendiri.
“Keberhasilan ini adalaj kerja kolektif antara sekolah, pelatih, dan dukungan emosional orang tua yang menciptakan ekosistem prestasi yang sehat,” ujar Uus.
Kemenangan ini menjadi sinyal kuat bagi Kabupaten Kuningan bahwa pembinaan olahraga tradisional masih memiliki taring tajam di tingkat akar rumput. Bagi SDN Unggulan Kuningan, trofi juara umum ini bukanlah garis finis. Ini adalah pijakan awal bagi para pesilat muda tersebut untuk menatap level kompetisi yang lebih tinggi, membawa marwah pencak silat dari Kuningan ke panggung nasional yang lebih luas. (ali)
