BANDUNG — Peta persaingan menuju kursi kepemimpinan PSSI Provinsi Jawa Barat mengalami pergeseran dinamis jelang gelaran Kongres Luar Biasa (KLB). Dr. Buky Wibawa Karya Guna, M.Si. kini berstatus sebagai calon tunggal setelah dua pesaing utamanya, Dr. Tommy Aprianto dan politikus Muhamad Farhan, secara resmi menyatakan mengundurkan diri dari bursa pencalonan.

Kepastian perubahan peta kontestasi ini mengemuka dalam agenda pengambilan nomor urut calon yang dipimpin oleh jajaran Komite Pemilihan PSSI Jawa Barat. Agenda tersebut menjadi salah satu tahapan krusial menuju kongres pemilihan yang dijadwalkan berlangsung pada 16–17 Oktober 2026 di Hotel Horison, Bandung.

Menanggapi kondisinya yang melenggang tanpa rival, Ketua DPRD Jawa Barat periode 2024–2029 tersebut membantah adanya rekayasa politik atau skenario khusus di balik mundurnya kedua kandidat lain. Politikus Partai Gerindra ini menegaskan bahwa konstelasi organisasi terbentuk secara alami melalui intensitas komunikasi yang terbangun transparan.

“Tidak ada skenario. Semuanya berjalan secara alami,” ujar Buky Wibawa menegaskan posisinya, kamis (8/10/2026) kepada awak media.

Sejak awal mengibarkan bendera pencalonan, Buky memilih pendekatan dialogis dengan merangkul berbagai pemangku kepentingan sepak bola di Tatar Pasundan. Komunikasi intensif tidak hanya dilakukan kepada jajaran pengurus daerah, melainkan juga dibina secara langsung bersama Tommy Aprianto dan Muhamad Farhan.

Bagi Buky, langkah diplomasi organisasi bukan sekadar sarana menghimpun dukungan politik suara, melainkan medium kritis untuk membedah akar masalah serta memetakan potensi pengembangan olahraga si kulit bundar di Jawa Barat. Dia menilai keberanian bertarung di bursa PSSI harus diimbangi dengan kesiapan intelektual serta pemahaman mendalam terkait tata kelola organisasi sportif.

“Saya mengedepankan aspek knowledge dan ability. Kalau saya tidak punya pengetahuan, apa saya berani maju menjadi calon Ketua PSSI?” tuturnya.

Memperkuat argumennya mengenai pentingnya konsensus, Buky mengutip analogi militer tentang peran vital jalur komunikasi. Bagi dia, komunikasi memang tidak serta-merta memenangkan seluruh pertempuran, namun tidak ada pertempuran yang dapat dimenangkan tanpa efektivitas komunikasi.

Rekam Jejak Parlemen dan Janji Kolaborasi Ahli

Sosok Buky Wibawa bukan nama asing di panggung kebijakan publik Jawa Barat. Berangkat dari Daerah Pemilihan 1 (Kota Bandung dan Kota Cimahi), akademisi bergelar doktor ini tercatat sebagai legislator senior dari Fraksi Partai Gerindra. Pada periode 2019–2024, dia mengemban amanat sebagai Sekretaris Komisi 4 yang membidangi sektor pembangunan, sembari aktif di Badan Musyawarah dan Badan Pembentukan Peraturan Daerah.

Karier politiknya kian cemerlang saat dipercaya memegang pilar tertinggi legislatif daerah sebagai Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat periode 2024–2029, sekaligus memimpin pimpinan Badan Anggaran serta Badan Musyawarah.

Meski kenyang pengalaman dalam tata kelola kelembagaan dan anggaran daerah, Buky menyadari betul bahwa mengelola federasi sepak bola membutuhkan spesialisasi teknis yang berbeda. Dia menegaskan mundurnya Tommy Aprianto dan Muhamad Farhan justru memberikan beban moral serta amanah besar yang wajib dijaga dengan penuh integritas.

Guna menjawab tantangan tersebut, Buky berjanji tidak akan menjalankan roda organisasi PSSI Jabar dengan pendekatan otoriter atau satu arah. Dia berkomitmen merangkul para ahli di bidangnya masing-masing, termasuk mengadopsi pemikiran dari para mantan kandidat pendahulu.

“Saya tidak akan menjadi orang yang sok tahu. Kalau saya harus menjadi ketua PSSI, pasti saya akan bekerja sama dengan orang-orang yang ahli di bidangnya secara spesifik,” tegas dia.

Pendekatan kolaboratif ini diharapkan menjadi fondasi baru bagi PSSI Jawa Barat dalam membina bakat-bakat muda dan memajukan kompetisi daerah. Seluruh pemangku kepentingan kini menanti perhelatan KLB di Hotel Horison Bandung Pertengahan Oktober mendatang untuk mengesahkan kepemimpinan baru PSSI Jabar di bawah nahkoda Buky Wibawa. ***