KUNINGAN – Anggota DPR RI Komisi XII, H. Rokhmat Ardiyan atau HRA, mengajak masyarakat tidak memandang teknologi nuklir sebatas ancaman. Menurut dia, teknologi tersebut justru memiliki ruang pemanfaatan yang luas, dari layanan kesehatan hingga pertanian.

Hal itu disampaikan HRA dalam sosialisasi Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) RI di Arunika Eatery, Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Selasa (25/8/2026).

“Jangan alergi dengan nuklir. Sesungguhnya nuklir ini sangat banyak manfaatnya,” kata HRA dalam acara tersebut.

HRA mengatakan pemahaman masyarakat, terutama generasi muda, perlu mengikuti perkembangan teknologi. Ia berharap mahasiswa dan masyarakat tidak hanya menjadi penonton ketika teknologi nuklir berkembang dan mulai digunakan untuk berbagai kebutuhan.

“Saya punya kepentingan agar mahasiswa dan masyarakat berjalan seiring waktu dengan teknologi ini demi kepentingan bangsa dan negara,” ujarnya.

Menurut HRA, pemanfaatan nuklir memiliki peluang yang cukup relevan untuk Kuningan. Salah satunya melalui teknologi iradiasi untuk memperpanjang masa simpan hasil pertanian.

Teknologi tersebut, kata dia, dapat menjadi salah satu pilihan dalam menangani persoalan pascapanen. Komoditas pertanian lokal yang mudah mengalami penurunan kualitas dapat memiliki masa simpan lebih panjang sehingga peluang pemasarannya ikut terbuka.

Selain pertanian, HRA menyoroti kebutuhan penguatan fasilitas radiologi di rumah sakit daerah. Pemanfaatan teknologi berbasis radiasi dalam dunia medis, menurut dia, perlu ditempatkan sebagai bagian dari pengembangan layanan kesehatan.

Dalam sosialisasi itu, Plt Kepala BAPETEN RI, Ir. Zainal Arifin, menjelaskan bahwa penggunaan tenaga nuklir di Indonesia tidak terbatas pada isu persenjataan. Teknologi tersebut telah digunakan dalam berbagai bidang, antara lain pengobatan kanker, eksplorasi minyak bumi dan pengujian struktur industri.

Zainal mengatakan aspek keselamatan dan keamanan menjadi bagian utama dalam setiap pemanfaatan tenaga nuklir. BAPETEN, kata dia, menjalankan fungsi pengawasan agar penggunaan tenaga nuklir sesuai ketentuan dan tidak mengabaikan risiko yang menyertainya.

“Safety” dan “security”, menurut Zainal, menjadi dua prinsip yang tidak dapat dipisahkan dari pemanfaatan teknologi nuklir.

HRA juga mengaitkan pengembangan teknologi nuklir dengan kebutuhan energi di masa mendatang. Ketika Indonesia berupaya mengurangi ketergantungan terhadap batu bara, energi nuklir dinilai memiliki peluang untuk masuk dalam pembahasan transisi menuju sumber energi yang lebih bersih.

Bagi HRA, pembicaraan mengenai nuklir tidak semestinya berhenti pada soal teknologinya. Yang tak kalah penting adalah bagaimana teknologi tersebut diterapkan untuk menjawab kebutuhan nyata, termasuk kebutuhan daerah.

Di Kuningan, ia melihat peluang itu berada pada sektor pertanian, kesehatan dan pengembangan sumber daya manusia. Namun, pemanfaatannya tetap membutuhkan pengetahuan publik dan pengawasan yang ketat agar teknologi tersebut digunakan sesuai tujuan.

Sosialisasi BAPETEN itu menjadi ruang untuk memperkenalkan sisi lain teknologi nuklir kepada masyarakat—bukan hanya tentang radiasi dan bahayanya, tetapi juga manfaat yang telah digunakan dalam kehidupan sehari-hari. ***