Cikalpedia
”site’s ”site’s
Kuningan

Ikhsan Marzuki Tuntut Moratorium Ekologis Total

Inisiator Gerakan KITA, Ikhsan Marzuki (istimewa)

KUNINGAN – Keputusan Gubernur Jawa Barat yang menandatangani moratorium penerbitan izin pembangunan perumahan di seluruh kabupaten/kota se-Jawa Barat menuai apresiasi luas, dinilai sebagai langkah berani di tengah meningkatnya ancaman bencana hidrometeorologi. Namun, bagi wilayah dengan tekanan ekologis tinggi seperti lereng Gunung Ciremai, moratorium yang fokus pada perumahan dianggap belum cukup menyentuh akar persoalan kerusakan lingkungan yang masif.

Pegiat sosial sekaligus Inisiator Gerakan KITA, Ikhsan Marzuki, menilai moratorium Gubernur seharusnya menjadi pintu masuk bagi kebijakan yang lebih komprehensif yaitu moratorium ekologis. Artinya, penghentian sementara tidak hanya pada pembangunan perumahan, tetapi juga seluruh bentuk pembangunan fisik yang berpotensi merusak kawasan resapan air dan penyangga lingkungan.

“Langkah Gubernur sangat tepat sebagai sinyal politik dan ekologis. Tapi jangan berhenti di perumahan saja. Di Ciremai, ancaman justru datang dari pembangunan wisata seperti glamping, resort, vila, hingga kafe yang masif di kawasan resapan air,” kata Ikhsan, Senin (15/12/2025).

Ikhsan yang juga mantan anggota DPRD kuningan itu menjelaskan, dalam lima tahun terakhir, wajah lereng Gunung Ciremai, khususnya di wilayah Kuningan bagian utara dan timur, berubah cepat. Lahan-lahan miring yang sebelumnya berupa hutan pinus, kebun rakyat, atau tanah terbuka kini dipenuhi bangunan wisata berkonsep ‘alami’. Ia menilai, label wisata alam kerap menutupi praktik alih fungsi lahan yang secara substansial merusak lingkungan.

“Jangan tertipu istilah wisata alam. Faktanya, banyak pembangunan wisata yang menebangi vegetasi, mengeraskan tanah, dan menambah beban limbah. Dampaknya sama dengan perumahan, hilangnya daya resap air dan meningkatnya risiko longsor serta banjir,” ujarnya dengan nada khawatir.

Meski tidak dikategorikan sebagai perumahan, pembangunan wisata di kawasan perbukitan memiliki efek ekologis yang setara. Permukaan tanah yang semula berfungsi sebagai penyerap alami air hujan berubah menjadi beton dan aspal. Limpasan air permukaan meningkat tajam, sementara kemampuan tanah menahan dan menyimpan air menurun drastis.

Baca Juga :  Royal Mulia Glamping: Wisata Alam Eksklusif Di Kaki Gunung Ciremai

Ikhsan juga menyoroti lemahnya pengawasan perizinan. Banyak usaha wisata berdiri melalui skema desa wisata atau kepemilikan pribadi yang dalam praktiknya kerap luput dari kajian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) maupun pengendalian tata ruang yang ketat. Akibatnya, pembangunan merangsek hingga ke zona yang seharusnya menjadi sabuk hijau atau zona konservasi.

Gunung Ciremai bukan cuma ikon geografis. Sebagai puncak tertinggi di Jawa Barat, kawasan ini merupakan sumber utama air bagi sejumlah Daerah Aliran Sungai (DAS) penting, seperti Cisanggarung, Cijalutung, dan Cikijing. Kerusakan kawasan resapan di hulunya, menurut Ikhsan, akan memicu efek domino yang dirasakan hingga wilayah hilir.

Related posts

Situasi Belum Kondusif, Dua Agenda Besar Bupati Ditunda

Ceng Pandi

Menanti Pj Sekda Baru Kuningan: Siapa yang Paling Layak?

Alvaro

VIDEO EKSKLUSIF ! Hari jadi Kuningan ke-527 bersama Bupati Kuningan Periode 2025-2030

Cikal

Leave a Comment