KUNINGAN – Pondok Pesantren Modern Al-Ikhlash Ciawilor, Ciawigebang Kabupaten Kuningan, mencatat langkah penting dalam perjalanan panjangnya di dunia pendidikan. Setelah puluhan tahun konsisten melahirkan santri dan santriwati berprestasi, lembaga pendidikan tersebut kini memperluas kiprahnya dengan menghadirkan perguruan tinggi.

‎Langkah tersebut ditandai dengan peresmian Institut Agama Islam (IAI) Al-Ikhlash Kuningan, Rabu, (2/9/2026). Kehadiran kampus tersebut akan memperkuat ekosistem pendidikan pesantren sekaligus membuka akses pendidikan tinggi yang lebih dekat bagi generasi muda di Kuningan dan sekitarnya.

‎Pada tahap awal, IAI Al-Ikhlash membuka dua fakultas dengan empat program studi, yakni Pendidikan Agama Islam (PAI), Manajemen Pendidikan Islam (MPI), Tadris Bahasa Inggris (TBI), serta Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT).

‎Keempat program studi tersebut dirancang tidak sekadar sebagai pilihan pendidikan tinggi, tetapi juga menjadi bagian dari kesinambungan pendidikan yang telah dibangun melalui tradisi pesantren.

‎Rektor IAI Al-Ikhlash Kuningan, Dr. KH. M. Tata Taufik, mengatakan bahwa berdirinya institut tersebut merupakan bentuk kontribusi masyarakat dalam mendorong kemajuan pendidikan dan pembangunan sumber daya manusia.

‎Menurutnya, kehadiran IAI Al-Ikhlash harus dipandang sebagai kekayaan dan usaha bersama masyarakat untuk memberikan manfaat yang lebih luas.

“Ini kan menjadi sebuah kekayaan besar, usaha besar dari warga untuk lebih berkontribusi besar bagi masyarakat. Idealismenya seperti itu, kita harus membangun opini masyarakat seperti itu,” ujarnya.

‎Dr. Tata menjelaskan, pilihan empat program studi yang dibuka pada tahap awal juga memiliki keterkaitan erat dengan kebutuhan pendidikan pesantren.

‎Program studi Manajemen Pendidikan Islam, misalnya, diarahkan untuk memperkuat tata kelola dan konsolidasi pesantren. Sementara Tadris Bahasa Inggris diproyeksikan mendukung kebutuhan tenaga pendidik, sedangkan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir menjadi ruang pengembangan keilmuan keulamaan.

‎”Kita punya Manajemen Pendidikan Islam untuk konsolidasi pesantren, kemudian Pendidikan Bahasa Inggris untuk keguruan, dan untuk keulamaan kita siapkan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. Saya pikir itu program yang berkesinambungan dengan pendidikan yang ada di pesantren,” jelasnya.

‎Dengan konsep tersebut, IAI Al-Ikhlash tidak hanya membawa pendidikan tinggi ke lingkungan pesantren, tetapi juga berupaya menjadikan tradisi keilmuan pesantren sebagai bagian dari pengembangan pendidikan tinggi.

‎Peresmian IAI Al-Ikhlash berlangsung dengan dihadiri jajaran pimpinan yayasan, pengurus, alumni, serta santri dan santriwati Pondok Pesantren Modern Al-Ikhlash.

‎Momentum tersebut juga mendapat perhatian dari tokoh internasional. Cendekiawan Muslim sekaligus CEO Imam Foundation asal Libya, Prof. Syeikh Mohammed Ali Belao, turut hadir dan secara langsung menandatangani kerja sama dengan IAI Al-Ikhlash Kuningan.

‎Kehadiran perguruan tinggi ini juga mendapat apresiasi dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

‎Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, melalui Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Provinsi Jawa Barat, Andrie Kustria Wardana, menilai kehadiran IAI Al-Ikhlash menjadi bagian penting dalam memperluas kesempatan masyarakat memperoleh pendidikan tinggi.

“Intinya tentu bicara kelembagaan dengan institut ini kita bicara peningkatan sumber daya manusia. Adanya perguruan tinggi minimal di Ciawilor dan Kuningan, kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi menjadi lebih terjamin,” ungkapnya.

‎Berdirinya kampus tersebut menjadi babak baru bagi Pondok Pesantren Modern Al-Ikhlash yang telah puluhan tahun berkiprah di Kabupaten Kuningan.

‎Pesantren tersebut selama ini dikenal sebagai lembaga pendidikan yang melahirkan lulusan dengan kiprah di berbagai bidang, mulai dari agama, pendidikan hingga kehidupan sosial kemasyarakatan.

‎Kini, pengalaman panjang tersebut dikembangkan ke jenjang pendidikan tinggi formal melalui IAI Al-Ikhlash. Kehadirannya diharapkan tidak hanya menjadi pilihan baru bagi lulusan pesantren, tetapi juga menjadi pusat pengembangan sumber daya manusia yang memiliki keseimbangan antara penguasaan ilmu pengetahuan, karakter keislaman, nilai-nilai kepesantrenan, serta kemampuan menghadapi perkembangan zaman.

‎Dengan demikian, menurutnya, IAI Al-Ikhlash diharapkan mampu menjadi bagian dari kekuatan baru pendidikan di Kabupaten Kuningan, sekaligus memperkuat peran pesantren dalam mencetak generasi yang unggul, berilmu, berkarakter, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.