MEMASUKI bulan Rajab, banyak orang langsung teringat Isra Mi’raj. Bukan tanpa sebab. Di dalam tradisi Islam, peristiwa besar ini diyakini terjadi pada bulan Rajab, meskipun tanggal pastinya masih menjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Di tengah perbedaan itu, 27 Rajab menjadi tanggal yang paling populer di masyarakat.
Rajab sendiri bukan bulan biasa. Ia termasuk bulan haram, bulan yang dimuliakan Allah Swt. Karena itu, ketika peristiwa luar biasa seperti Isra Mi’raj terjadi di waktu yang juga mulia, pesan spiritualnya menjadi semakin kuat. Ini bukan sekadar cerita sejarah, melainkan momen refleksi.
Isra Mi’raj bukan dongeng, tapi titik balik. Isra Mi’raj merupakan perjalanan Nabi Muhammad dalam satu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu naik ke langit hingga Sidratul Muntaha. Perjalanan ini terjadi setelah Nabi melewati masa paling berat dalam hidupnya, kehilangan orang-orang terdekat dan tekanan sosial yang luar biasa.
Buat Gen Z, ini sangat relevan. Pesannya sederhana tapi dalam. Setelah jatuh, selalu ada kesempatan untuk naik. Bahkan, justru setelah fase paling gelap, Allah Swt. memberi Nabi penguatan terbesar.
Rajab juga menjadi bulan persiapan, bukan sekadar peringatan. Banyak ulama menggambarkan bahwa bulan Rajab merupakan waktu menanam, Sya’ban waktu merawat, dan Ramadhan waktu untuk memanen. Artinya, Rajab bukan cuma soal memperingati Isra Mi’raj secara seremonial. melainkan alarm awal untuk mulai berbenah, terutama sebelum masuk Ramadhan.
Dari semua peristiwa luar biasa Isra Mi’raj itu, ada satu hal yang paling penting, yakni perintah shalat lima waktu. Ini satu-satunya ibadah yang diwajibkan langsung oleh Allah Swt. tanpa perantara wahyu di bumi.
Maka dikatakan, kalau Isra Mi’raj adalah perjalanan Nabi ke hadirat Allah Swt, maka shalat adalah mi’rajnya orang beriman. Bukan soal ritual semata, tapi soal koneksi. Karen itu, di titik ini juga Rajab sering disebut sebagai bulan evaluasi shalat. Bukan cuma rajin atau tidak, tapi juga hadir atau tidak hatinya.
