Karena itu, meski tidak ada ibadah khusus dengan tata cara tertentu yang diwajibkan pada malam Isra Mi’raj, tapi memperingatinya sebagai pengingat sejarah dan penguat iman tetap dibolehkan, selama tidak dianggap sebagai ritual wajib. Yang lebih penting justru dampaknya setelah itu, apakah shalat kita jadi lebih baik, lebih sadar, dan lebih jujur.
Kemudian, Isra Mi’raj dan bulan Rajab juga mengajarkan satu hal penting, bahwa naik itu butuh proses. Tidak instan, tidak selalu terlihat, dan tidak cukup dengan seremoni tahunan. Rajab datang setiap tahun seperti pengingat halus. Bahwa sebelum Ramadhan tiba, ada waktu untuk berhenti sejenak, mengevaluasi diri, dan memperbaiki arah.
Dan pada akhirnya, Isra Mi’raj bukan hanya tentang perjalanan Nabi Muhammad di masa lalu, tetapi tentang perjalanan iman kita hari ini. Apakah tetap di tempat, atau mulai naik, pelan tapi konsisten.*
Penulis: Yadi Suryadi, Dosen UNISA Kuningan
