PERISTIWA Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW adalah salah satu episode teologis paling menantang dalam sejarah Islam. Ia tidak hanya menguji keimanan umat pada masanya, tetapi juga terus menantang cara berpikir umat Islam di setiap zaman. Isra Mi’raj bukan sekadar kisah perjalanan spiritual, melainkan narasi iman yang melampaui batas logika manusia, ruang, dan waktu. Allah SWT berfirman:
“Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.” (QS. Al-Isra: 1)
Ayat ini menegaskan bahwa Isra Mi’raj adalah peristiwa ilahiah, bukan eksperimen sains. Namun, tantangan hari ini justru muncul ketika generasi modern—khususnya Generasi Z dan generasi digital—hidup dalam dunia yang sangat rasional, berbasis data, teknologi super canggih, dan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI). Di tengah dunia yang serba terukur dan terprediksi oleh algoritma, muncul pertanyaan laten: masihkah mukjizat relevan bagi generasi yang hidup bersama mesin cerdas? Di sinilah urgensi teologi adaptif menemukan relevansinya.
Teologi Adaptif: Iman yang Tetap, Narasi yang Kontekstual
Teologi adaptif bukanlah teologi kompromistis yang mengubah akidah demi mengikuti zaman. Ia justru berangkat dari keyakinan bahwa substansi iman bersifat absolut, sementara cara memaknainya bersifat dinamis. Teologi adaptif mengakui bahwa setiap generasi memiliki epistemologi sendiri—cara memahami kebenaran—yang dipengaruhi oleh konteks sosial, budaya, dan teknologi. Generasi awal Islam hidup dalam budaya lisan dan spiritualitas simbolik. Generasi hari ini hidup dalam budaya visual, digital, dan rasionalitas komputasional. Gen Z terbiasa dengan big data, machine learning, virtual reality, dan real-time connectivity. Mereka bertanya bukan karena ingin membantah iman, tetapi karena terbiasa berpikir kritis dan logis. Masalahnya bukan pada iman generasi ini, melainkan pada cara dakwah yang sering tertinggal dari cara berpikir mereka.
Menariknya, perkembangan teknologi justru membuka ruang refleksi baru terhadap Isra Mi’raj. Jika dahulu perjalanan dari Makkah ke Baitul Maqdis dalam satu malam dianggap mustahil, hari ini manusia terbiasa berpindah lintas benua dalam hitungan jam. Jika dahulu komunikasi jarak jauh terasa magis, kini video call lintas negara menjadi rutinitas. AI bahkan mampu melakukan hal-hal yang dulu dianggap “mustahil”: menerjemahkan bahasa secara instan, menganalisis emosi, memprediksi perilaku manusia, bahkan menciptakan teks dan gambar yang menyerupai karya manusia.
Namun, justru di titik inilah Isra Mi’raj menemukan makna teologisnya yang lebih dalam. Teknologi mengajarkan satu hal penting: batas kemampuan manusia selalu bergeser, tetapi tidak pernah tak terbatas. AI bekerja berdasarkan data, probabilitas, dan pola. Ia tidak memiliki kesadaran, iman, maupun dimensi transenden. Isra Mi’raj menegaskan bahwa di atas semua hukum alam dan kecanggihan teknologi, ada kehendak Allah yang tidak terikat oleh apa pun. Sesuai dengan Firman Allah subhanu wata ala dalam Al-Quran; “Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ Maka terjadilah ia.” (QS. Yasin: 82). Ayat ini menjadi fondasi teologi adaptif: iman tidak bertentangan dengan rasionalitas, tetapi melampaui rasionalitas itu sendiri.
Rasionalitas Gen Z dan Tantangan Dakwah Islam
Generasi Z tumbuh dalam budaya questioning mindset. Mereka tidak mudah menerima otoritas tanpa penjelasan. Dalam konteks dakwah, pendekatan dogmatis sering kali gagal menyentuh kesadaran mereka. Bukan karena mereka antiagama, tetapi karena mereka mencari makna yang relevan dengan realitas hidupnya. Teologi adaptif tidak memaksa Isra Mi’raj untuk “dibuktikan secara ilmiah”, karena iman memang tidak bekerja pada wilayah itu. Namun, teologi adaptif juga tidak menutup dialog dengan sains dan teknologi. Ia mengajak generasi muda untuk memahami bahwa sains menjelaskan bagaimana alam bekerja sementara iman menjelaskan mengapa manusia hidup dan ke mana ia menuju.
Rasulullah SAW sendiri memberi teladan bagaimana iman diuji oleh rasionalitas. Ketika peristiwa Isra Mi’raj disampaikan, Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak meminta bukti empiris. Ia berkata: “Jika Muhammad yang mengatakannya, maka itu benar.” (HR. Al-Hakim). Ini bukan sikap anti-akal, melainkan kepercayaan penuh terhadap kebenaran kenabian.
Shalat: Output Spiritual di Tengah Disrupsi Digital
