Cikalpedia
”site’s ”site’s
Terbaru

Isra Mi’raj, Teologi Adaptif, dan Tantangan Iman di Era Kecerdasan Artifisial

Dr. Nanan Abdul Manan, M.Pd.

Jika Isra Mi’raj hanya dipahami sebagai perjalanan kosmik Nabi Muhammad SAW menembus ruang dan waktu, maka pesan teologis terpentingnya justru tereduksi. Puncak dari peristiwa Isra Mi’raj bukanlah pengalaman metafisis Nabi di lapisan langit, melainkan turunnya perintah shalat. Hal ini menunjukkan bahwa Islam tidak menempatkan spiritualitas sebagai pengalaman elitis yang jauh dari realitas, tetapi sebagai fondasi praksis kehidupan sehari-hari. Dalam perspektif teologi adaptif, shalat dapat dipahami sebagai output spiritual dari pengalaman iman yang transendental: semakin tinggi pengalaman keimanan seseorang, semakin nyata pula dampaknya dalam pola hidup dan kesadaran eksistensialnya.

Allah SWT berfirman, “Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku” (QS. Thaha: 14). Ayat ini menegaskan bahwa shalat berfungsi sebagai mekanisme penghubung kesadaran manusia dengan Tuhan. Pesan ini menjadi semakin relevan di era disrupsi digital, ketika kehidupan manusia dipenuhi oleh arus informasi tanpa henti, notifikasi algoritmik, dan tuntutan produktivitas yang terus menekan. Generasi digital hidup dalam kondisi selalu terhubung secara teknologi, tetapi sering kali terputus secara spiritual. Di tengah dunia yang diatur oleh kecepatan dan efisiensi, shalat hadir sebagai ruang jeda eksistensial yang mengembalikan manusia pada makna kehadiran dirinya di hadapan Allah.

Dalam konteks ini, shalat dapat dipahami sebagai counter-system terhadap logika teknologi modern. Jika AI dan sistem digital mendorong manusia untuk selalu responsif, reaktif, dan berbasis performa, maka shalat mengajarkan kehadiran penuh, ketundukan, dan kesadaran batin. Lima waktu shalat tidak sekadar kewajiban ritual, melainkan sebuah arsitektur waktu ilahiah yang menata ulang ritme hidup manusia agar tidak sepenuhnya dikendalikan oleh mesin dan algoritma. Shalat memutus dominasi teknologi atas kesadaran manusia dan mengembalikan orientasi hidup pada pusat spiritual yang stabil.

Baca Juga :  Iwan Bule Serahkan Alat Olahraga di Luragung, Dorong Semangat Pemuda Berprestas

Di tengah meningkatnya fenomena kelelahan digital, kecemasan eksistensial, dan krisis makna yang dialami generasi Z dan generasi di zaman ini, shalat sejatinya berfungsi sebagai sistem penyangga spiritual. Konsep-konsep modern seperti mindfulness, self-regulation, dan mental grounding pada dasarnya telah lama hadir dalam praktik shalat, namun dengan orientasi yang jauh lebih dalam karena bersandar pada relasi transenden dengan Allah. Rasulullah SAW bersabda, “Dijadikan penyejuk mataku di dalam shalat” (HR. An-Nasa’i). Hadis ini menegaskan bahwa shalat bukan beban, melainkan ruang pemulihan jiwa di tengah tekanan kehidupan yang semakin mekanistik.

Lebih jauh, shalat tidak hanya berdimensi personal, tetapi juga memiliki implikasi etis dan sosial yang kuat. AI mampu memproses data dan membuat keputusan berbasis algoritma, tetapi ia tidak memiliki kompas moral. Dalam konteks inilah shalat berfungsi sebagai sarana pembentukan kesadaran etis manusia. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar” (QS. Al-‘Ankabut: 45). Shalat yang dijalankan dengan kesadaran penuh akan membentuk karakter, mengendalikan ego, dan menjaga manusia agar tidak larut dalam logika instrumental teknologi yang bebas nilai.

Isra Mi’raj juga mengajarkan bahwa pengalaman spiritual yang tinggi tidak menjauhkan manusia dari tanggung jawab sosial, tetapi justru memperkuatnya. Shalat sebagai produk utama Isra Mi’raj bukanlah pelarian dari dunia, melainkan sumber energi moral untuk menghadapinya. Rasulullah SAW bersabda, “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat” (HR. Bukhari), yang menunjukkan bahwa shalat harus tercermin dalam cara hidup, etika bermedia, dan cara manusia memperlakukan sesama di ruang digital. Dalam bahasa teologi adaptif, shalat membentuk manusia yang mampu menguasai teknologi tanpa kehilangan kemanusiaannya. Dengan demikian, di era kecerdasan artifisial, shalat tidak kehilangan relevansinya, justru menemukan urgensinya yang baru. Ia tidak bersaing dengan teknologi, tetapi menjaga manusia tetap manusia. Isra Mi’raj mengajarkan bahwa perjalanan menuju langit justru melahirkan perintah yang paling membumi, dan di tengah dunia yang semakin canggih, shalat menjadi simbol bahwa iman bukan sekadar keyakinan metafisis, melainkan sistem kehidupan yang menyeimbangkan akal, teknologi, dan ruh.

Baca Juga :  Cicilan Kemanusiaan

Penutup: Iman yang Bertumbuh, Bukan Membeku

Isra Mi’raj tidak kehilangan relevansinya di era AI. Justru sebaliknya, ia menegaskan bahwa iman harus terus bertumbuh mengikuti zaman, tanpa kehilangan akarnya. Narasi boleh berubah, pendekatan dakwah boleh beradaptasi, bahasa boleh menyesuaikan generasi, tetapi keyakinan terhadap kekuasaan Allah harus tetap menjadi fondasi kehidupan. Teologi adaptif mengajarkan bahwa Islam tidak takut pada teknologi. Islam tidak terancam oleh AI. Yang perlu dijaga adalah agar manusia tidak kehilangan dimensi spiritualnya ketika teknologi menjadi pusat kehidupan. Isra Mi’raj adalah pengingat abadi bahwa setinggi apa pun peradaban manusia, arah hidup tetap harus menuju Allah. Kita senantiasa optimistis dan memiliki nilai istiqomah dalam menjalankan ibadah dengan relasi prinsip growth mindset yang senantiasa mengedepankan nilai proses yang kuat dan tidak rapuh karena orientasi hasil semata.*

Penulis: Dr. Nanan Abdul Manan, M.Pd.

Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Kuningan / Ketua ICMI ORDA Kuningan

Related posts

Pemkab Kuningan Mantapkan Persiapan Pemilu 2024

Cikal

Banjir Kian Meluas, 28 Kereta Api di Daop 3 Cirebon Gagal Berangkat

Alvaro

Kuningan Raih Predikat Kabupaten Peduli HAM 2023

Cikal