
KUNINGAN – Pertumbuhan ekonomi bukan satu-satunya ukuran pembangunan Kabupaten Kuningan. Di balik angka 6,98 persen pada 2025, pemerintah masih menghadapi pekerjaan rumah di jalan, sekolah, irigasi hingga layanan dasar masyarakat.
Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar mengatakan pembangunan harus bergerak bersamaan. Infrastruktur dasar tetap menjadi penopang agar pertumbuhan ekonomi tidak berhenti sebagai angka statistik.
Pada 2025, tingkat kemantapan jalan daerah tercatat 78,23 persen.
Di sektor pertanian, pemerintah melalui program Jawara Tani menyelesaikan pemeliharaan dan pembangunan 235 unit irigasi. Sebanyak 30.000 ton subsidi pupuk juga disalurkan untuk mendukung produksi pertanian dan ketahanan pangan.
Pekerjaan serupa dilakukan di sektor pendidikan.
Pemerintah Kabupaten Kuningan membangun 18 ruang kelas baru dan merehabilitasi 307 ruang kelas. Sebanyak 34 perpustakaan, 12 laboratorium dan 74 fasilitas sanitasi sekolah juga dibangun.
Di bidang kesehatan, pemerintah menargetkan prevalensi stunting ditekan hingga di bawah 10 persen sembari meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dasar di puskesmas.
Di sektor perumahan, 1.388 rumah tidak layak huni telah direhabilitasi. Pengembang juga membangun 2.444 rumah bersubsidi sebagai bagian dari dukungan terhadap Program 3 Juta Rumah.
Kuningan kemudian memperoleh penghargaan nasional sebagai Terbaik II Pemerintah Daerah Berprestasi Regional Jawa-Bali kategori Implementasi Program Tiga Juta Rumah dari Kementerian Dalam Negeri.
Namun deretan program tersebut belum menutup seluruh kebutuhan.
Dian mengakui masih ada masyarakat yang membutuhkan perhatian dan wilayah yang memerlukan peningkatan infrastruktur.
Karena itu, Hari Jadi ke-528 tidak ingin ditempatkan sekadar sebagai perayaan. Momentum tersebut digunakan untuk mengingatkan bahwa pembangunan masih berjalan dan membutuhkan kerja bersama.
“Keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari megahnya bangunan fisik,” ujar Dian.
Bagi pemerintah daerah, pembangunan jalan, irigasi, sekolah dan rumah layak bukan pekerjaan yang berdiri sendiri. Infrastruktur tersebut berkaitan langsung dengan aktivitas ekonomi, akses pendidikan, kesehatan dan kualitas hidup masyarakat.
Di titik itu, makna “Melesat Ngudag Jaman” diuji: seberapa cepat pembangunan bergerak dan seberapa jauh manfaatnya sampai ke masyarakat. ***





