KUNINGAN – Rombongan karnaval budaya Universitas Islam Al-Ihya Kuningan sukses mencuri perhatian penonton di sepanjang jalan Siliwangi Kuningan. Di hadapan penonton, kampus berjas biru itu menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga kelestarian alam terutama Ciremai.

Gunung Ciremai menjadi properti yang diiringi mahasiswa dari bernagai program studi. Di sepanjang jalan, peserta menyanyikan lagu “Naik-naik ke puncak gunung” tetapi narasinya sedikit diubah dengan kondisi saat ini, yaitu gunung gundul, banyal sampah, dan masyarakat sekitarnya hidup susah.

Puluhan peserta juga menggunakan beragam jenis pakaian yang merepresentasikan dinamika kehidupan Gunung Ciremai. Tidak hanya petani, beragam jenis hewan, bahkan makhluk halus yang berlindung di bawah Ciremai, tetapi juga kelompok berjas dan berdasi yang mencerminkan bagian dari ancaman gunung tertinggi di Jawa Barat tersebut.

‎Di hadapan penonton dan Bupati Kuningan, Unisa Kuningan menegaskan kembali pentingnya memperkokoh hubungan baik dengan alam atau hablum minal ‘alam. Bahkan, tepat di panggung utama, peserta karnaval menunjukkan langsung kalau Ciremai hari ini habis digunduli oleh sekelompok orang berjas dan berdasi yang tak henti menebar uang.

‎Orator perwakilan UNISA Kuningan, Zaky, mengajak masyarakat untuk memperkokoh dan terus menumbuhkan kecintaan terhadap alam. Menurutnya, gunung merupakan sumber kehidupan yang tidak boleh diganggu apalagi dirusak hanya untuk kepentingan ekonomi dan pembangunan.

Ka para wargi, bumi anu dipijak, cai anu diinum, hawa anu diseuseup, jeung leuweung anu héjo, mangrupa kurnia ti Gusti Nu Maha Suci. Ulah urang ngaruksak, ulah urang ngotoran, sing pageuh piara kalayan rasa asih jeung tanggung jawab,” tuturnya.

‎Seruan tersebut mendapat perhatian para penonton yang memadati kawasan karnaval. Pesan yang disampaikan sangat relevan dengan dinamika dan persoalan lingkungan yang terjadi saat ini. Zaky juga mengingatkan salah satu falsafah Sunda tentang bahaya merusak alam.

‎“Leuweung ruksak, cai béak, manusa balangsak (Hutan rusak, air habis, manusia sengsara),” tegasnya.

‎Falsafah tersebut menggambarkan hubungan erat antara kelestarian alam dan keberlangsungan kehidupan manusia. Ketika hutan kehilangan fungsinya dan sumber air mengalami kerusakan, dampaknya pada akhirnya akan kembali dirasakan oleh manusia.

‎Orasi kemudian mencapai puncaknya melalui pesan puitis yang menggugah kesadaran tentang tanggung jawab antar generasi bahwa “Cinyusu diraksa, kahirupan raharja; cai soca dicegah, sangkan incu bagja. Nu kiwari dipiara, nu jaga dipiboga; wariskeun cinyusu, ulah wariskeun cai soca!”

‎Menurut Zaky, menjaga mata air berarti menjaga kehidupan dan kesejahteraan. Apa yang dipelihara hari ini akan menjadi warisan bagi generasi mendatang. Karena itu, yang diwariskan kepada anak cucu semestinya adalah sumber kehidupan, bukan persoalan dan air mata.

‎Pesan tersebut menjadi ruh utama penampilan UNISA Kuningan. Melalui paduan suara, properti visual, serta orasi kebudayaan, UNISA berupaya menghadirkan kampanye lingkungan dengan pendekatan yang dekat dengan masyarakat dan berakar pada budaya lokal.

‎Kehadiran UNISA Kuningan dalam Karnaval Hari Jadi Kuningan ke-528 akhirnya bukan hanya menjadi tontonan, tetapi juga tuntunan. Di tengah kemeriahan perayaan hari jadi daerah, civitas akademika UNISA Kuningan mengajak masyarakat untuk kembali menyadari bahwa merawat alam merupakan bagian dari tanggung jawab manusia.

‎”Hablum minal ‘alam menjadi pesan bahwa hubungan manusia dengan alam harus dibangun atas dasar kasih sayang, tanggung jawab, dan keberlanjutan. Sebab, menjaga alam hari ini berarti menjaga kehidupan generasi yang akan datang,” pungkasnya.