KUNINGAN – Suasana Karnaval Budaya Universitas Kuningan kembali memikat mata penonton. Tema bersih dan jujur disampaikan kepada masyarakat dan secara simbolis kepada Bupati Kuningan.

Membawa ratusan mahasiswa dari berbagai program studi, Uniku tampil mempertontonkan Teater Jalanan yang memadukan seni musik dan teater dengan pesan moral yang kuat, Minggu, (13/09/2026).

‎Tak hanya menjadi tontonan, tema “Segala zaman harus bersih, segala unsur harus jujur” tersebut menjadi refleksi terhadap kondisi kehidupan saat ini sekaligus ajakan kepada seluruh elemen masyarakat untuk membangun kehidupan yang lebih baik dengan menjadikan kebersihan dan kejujuran sebagai nilai utama.

‎Penampilan tersebut dikemas secara atraktif. Para mahasiswa tampil dengan penuh energi melalui perpaduan musik, teatrikal, gerak, dan berbagai ekspresi seni yang menghidupkan pesan yang ingin disampaikan.

‎Sutradara Teater Jalanan Uniku sekaligus Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Uniku, Dr. Arip Hidayat, menjelaskan bahwa tema yang diangkat merupakan karya reflektif atas realitas kehidupan saat ini.

‎“Segala zaman harus bersih, segala unsur harus jujur ini merupakan refleksi realita dengan kondisi saat ini,” tuturnya.

‎Menurutnya, pesan yang dibawa dalam karnaval tersebut merupakan refleksi bersama yang harus dimulai dari lingkungan paling dekat, yaitu diri sendiri. Dari kesadaran pribadi tersebut, nilai kebersihan dan kejujuran kemudian diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat hingga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

‎“Tema yang diusung pada karnaval budaya tahun ini merupakan refleksi bersama, dimulai dari yang paling dekat, yaitu diri sendiri, sampai yang aplikatif di negeri ini. Karena kalau memang kepengen maju itu, harus bersih dan jujur,” jelasnya.

‎Pesan yang kuat tersebut berjalan beriringan dengan semangat para mahasiswa yang mengikuti pawai. Lebih dari 300 mahasiswa dan mahasiswi dari berbagai program studi di lingkungan Uniku terlibat langsung dalam pertunjukan Teater Jalanan.

‎Teriknya matahari di tengah musim kemarau serta rute pawai yang cukup panjang tidak menyurutkan antusiasme para peserta. Mereka tetap tampil penuh semangat dan memainkan setiap bagian pertunjukan hingga mampu menarik perhatian masyarakat yang menyaksikan di sepanjang jalur karnaval.

‎“Ada lebih dari 300 orang peserta yang ikut terlibat dalam karnaval pawai alegoris Harjad Kuningan ke-528 tahun 2026. Walaupun kita sedang dalam musim kemarau, panas teriknya matahari dan berjalan cukup jauh saat pawai karnaval alegoris itu, namun tidak menyurutkan semangat para mahasiswa dan mahasiswi dalam penampilannya,” ungkapnya.

‎“Para peserta terlihat larut dalam teater jalanan tersebut dengan penuh semangat,” tambahnya.

‎Pesan tentang kebersihan juga diwujudkan dalam sebuah simbol sederhana namun sarat makna. Di atas panggung kehormatan Karnaval Budaya Hari Jadi Kuningan ke-528, Rektor Universitas Kuningan Dr. Anna Fitri Hindriana, menyerahkan sapu lidi kepada Bupati Kuningan, Dr. Dian Rachmat Yanuar.

‎Sapu lidi tersebut menjadi simbol pesan yang dibawa Uniku melalui Teater Jalanan yaitu bahwa upaya menciptakan kehidupan yang bersih harus dimulai dari diri sendiri dan dilakukan secara bersama-sama.