
KUNINGAN – Bantuan 200 unit becak listrik kepada masyarakat Kabupaten Kuningan diharapkan tidak hanya menjadi sarana transportasi, tetapi mampu membuka peluang usaha dan membuat warga lanjut usia tetap produktif.
Anggota DPR RI Komisi XII, H. Rokhmat Ardiyan atau biasa akrab disapa HRA, mengatakan program bantuan melalui Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (GSN) tersebut ditujukan khususnya bagi masyarakat berusia di atas 55 tahun agar tetap dapat bekerja dan mencari nafkah untuk keluarga.
Menurutnya, becak listrik memiliki banyak potensi pemanfaatan. Selain sebagai alat transportasi, kendaraan tersebut dapat digunakan untuk aktivitas ekonomi masyarakat.
“Program ini untuk membantu masyarakat yang usianya di atas 55 tahun, supaya mereka tetap bisa bekerja, tetap bisa mencari nafkah, dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di daerah masing-masing,” ujarnya usai penyaluran bantuan becak listrik, Sabtu, (5/9/2026).
Ia mencontohkan, becak listrik dapat dimanfaatkan sebagai sarana berjualan kopi, makanan, hingga kebutuhan lainnya secara keliling. Kendaraan tersebut juga dapat digunakan untuk mendukung sektor pariwisata.
“Contoh, becak ini bisa dipakai untuk jualan kopi, jualan Indomie keliling dan lain sebagainya, untuk mengantar ke pariwisata. Banyak sekali manfaatnya,” katanya.
Lebih lanjut, ia menegaskan, bantuan tersebut bukan untuk diperjualbelikan. Penerima manfaat diharapkan menggunakan becak listrik sebagai sarana untuk membuka peluang ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.
“Ini tidak boleh diperjualbelikan. Jadi ini dimanfaatkan untuk membuka masa depan untuk warga Kuningan,” tegasnya.
HRA juga menyampaikan bahwa program becak listrik tersebut merupakan bagian dari penyaluran bantuan yang dilakukan di berbagai daerah melalui Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional.
Berdasarkan informasi yang disampaikan Direktur Hubungan dan Kerja Sama Kelembagaan GSN, Nuryana, rata-rata setiap kabupaten/kota mendapatkan sekitar 200 unit. Pihaknya berharap Kuningan dapat kembali memperoleh bantuan serupa pada program berikutnya.
“Doakan biar Kuningan dapat lagi,” ujarnya.
Menurutnya, sasaran masyarakat berusia di atas 55 tahun menjadi penting karena usia tersebut tidak selalu berarti seseorang harus berhenti bekerja.
Sebaliknya, dengan dukungan sarana yang tepat, mereka masih dapat menjalankan aktivitas ekonomi sesuai kemampuan masing-masing.
Becak listrik, kata dia, diharapkan menjadi salah satu instrumen untuk menjaga produktivitas tersebut. Dengan demikian, bantuan tidak berhenti pada pemberian barang, tetapi memiliki dampak langsung terhadap penghasilan penerima manfaat.
Program itu juga mendapat apresiasi dari Wakil Bupati Kuningan, Tuti Andriyani. Ia menyampaikan terima kasih atas perhatian dan bantuan yang diberikan kepada masyarakat Kuningan.
Tuti mengatakan pemerintah daerah akan melibatkan sejumlah perangkat daerah untuk melakukan pengawasan sekaligus memberikan pendampingan kepada penerima manfaat.
“Jadi tidak lepas begitu saja,” kata Tuti.
Sementara itu, Nuryana menjelaskan bahwa penerima bantuan sebelumnya telah mendapatkan pelatihan. Menurutnya, pendampingan dan edukasi menjadi bagian penting agar becak listrik benar-benar dimanfaatkan sesuai tujuan program.
Selain program becak listrik, Nuryana menyebut GSN juga menjalankan berbagai program di bidang pendidikan, pengentasan kemiskinan, kesehatan dan kemanusiaan.
Program tersebut antara lain beasiswa, pembagian tablet untuk daerah 3T, bantuan seragam sekolah, kacamata, operasi katarak dan bibir sumbing, bantuan kursi roda bagi penyandang disabilitas hingga bantuan kaki palsu.





