
KUNINGAN – Aktivis yang tergabung dalam Waroeng Rakyat mempertanyakan klaim Pemerintah Kabupaten Kuningan terhadap program Pangajen Rakyat Pinunjul.
Pemkab Kuningan secara resmi mengumumkan bahwa dalam rangkaian Hari Jadi Kuningan terdapat penghargaan serupa tetapi beda nama dalam Rapat Paripurna Hari Jadi ke-528 Kuningan, Selasa (1/9/2026).
Pada kesempatan itu, kegiatan serupa dan poto yang digunakan merupakan milik Waroeng Rakyat yang digelar sebelumnya.
Salah seorang Founder Waroeng Rakyat, Dede Awaludin atau akrab disapa Delon, menyebut terdapat kemiripan yang dinilai janggal antara penghargaan yang disampaikan pemerintah daerah dengan kegiatan Pangajen Rakyat Pinunjul yang sebelumnya digelar Waroeng Rakyat pada 23 Agustus 2026.
Menurutnya, lima penerima penghargaan yang disebut dalam kegiatan pemerintah daerah merupakan orang yang sama dengan lima pemenang Pangajen Rakyat Pinunjul yang telah mereka umumkan sebelumnya.
“Yang membuat kami menggelitik, ketika narasi yang seharusnya Pangajen Rakyat Pinunjul berubah menjadi Penghargaan Masyarakat Pinunjul dengan person yang sama yang kami umumkan seminggu sebelumnya,” ujar Delon dalam konferensi pers di Kajene Forest, Jum’at, (4/9/2026).
Tak hanya nama penerima, Delon juga menyoroti penggunaan foto kegiatan Waroeng Rakyat dalam materi penghargaan pemerintah daerah. Ia menyebut foto tersebut ditampilkan dengan bagian identitas Pangajen Rakyat Pinunjul yang telah dipotong.
Kondisi tersebut kemudian memunculkan pertanyaan di internal Waroeng Rakyat mengenai apakah penghargaan yang disampaikan pemerintah daerah merupakan kegiatan baru atau memiliki keterkaitan dengan program yang sebelumnya mereka gagas.
Delon mengatakan pihaknya sebenarnya telah berupaya melakukan tabayun dengan sejumlah pihak terkait sebelum menggelar konferensi pers. Namun, menurut dia, jawaban yang diterima masih beragam sehingga belum memberikan penjelasan yang dianggap memadai.
“Kalau misalkan itu didiskusikan terlebih dahulu mungkin akan lebih elok. Apalagi pesertanya adalah peserta yang pemenang di acara kami,” katanya.
Meski mengaku kecewa, Delon menegaskan Waroeng Rakyat tidak ingin persoalan tersebut justru menghilangkan substansi utama dari kegiatan penghargaan tersebut, yakni memberikan apresiasi kepada masyarakat yang dinilai memiliki dedikasi dan menjadi inspirasi bagi lingkungan sekitarnya.
Ia menegaskan, sejak awal Pangajen Rakyat Pinunjul merupakan bentuk pengabdian Waroeng Rakyat kepada masyarakat Kuningan, bukan program yang dibiayai pemerintah daerah.
“Perlu kami sampaikan dan meluruskan bahwa kegiatan yang kami lakukan pada 23 Agustus kemarin itu murni kegiatan kami, tidak mendapatkan sumbangan APBD dari awal sampai akhir,” tegasnya.
Ia menjelaskan, pembiayaan kegiatan tersebut berasal dari patungan para pendiri dan jejaring Waroeng Rakyat yang ingin turut berkontribusi kepada masyarakat.
Pangajen Rakyat Pinunjul sendiri, kata Delon, lahir setelah Waroeng Rakyat sebelumnya rutin menggelar forum diskusi untuk membahas berbagai persoalan masyarakat.
Dari proses tersebut, mereka menilai masyarakat tidak hanya membutuhkan ruang diskusi, tetapi juga aksi nyata berupa apresiasi kepada orang-orang yang selama ini bekerja dan berkontribusi tanpa banyak mendapat sorotan.
Lima kategori kemudian ditetapkan, yakni Buruh Pinunjul, Guru Pinunjul, Petani Pinunjul, Pedagang Pinunjul, dan Marbot Pinunjul.
Proses penentuan penerima penghargaan, lanjut Delon, dilakukan selama kurang lebih empat bulan melalui tahapan pendaftaran, observasi, seleksi hingga penilaian dengan melibatkan panelis atau juri dari luar Waroeng Rakyat untuk menjaga objektivitas.
Dalam acara puncak pada 23 Agustus 2026, pemerintah daerah turut diundang. Delon menyebut apresiasi dari Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar, berupa hadiah umrah kepada pemenang kategori Marbot Pinunjul juga bukan bagian dari skenario yang disiapkan panitia.
Menurutnya, apresiasi tersebut muncul secara spontan dari Bupati setelah melihat kegiatan yang digelar Waroeng Rakyat.
“Kita tidak menyetting sedikit pun. Tidak ada obrolan sebelumnya. Itu mungkin spontanitas dari Pak Bupati melihat kegiatan kita,” ungkapnya.
Delon menegaskan, meski pihaknya mempertanyakan penggunaan nama dan materi kegiatan, Warung Rakyat tidak ingin memperpanjang polemik.
Bahkan, ia membuka ruang apabila pemerintah daerah ingin meneruskan semangat penghargaan tersebut dengan konsep yang lebih besar dan cakupan yang lebih luas.
“Kalaupun misalkan tidak ada klarifikasi atau apa pun, ya mangga. Yang penting nilainya tersampaikan kepada masyarakat,” ujarnya.
Ia berharap polemik tersebut tidak menghilangkan tujuan utama penghargaan, yakni mengangkat kisah masyarakat biasa yang memiliki perjuangan luar biasa dan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat Kuningan lainnya.
“Lima orang pemenang ini adalah orang-orang hebat. Mereka yang kerjanya biasa-biasa saja dengan penghasilan yang sangat minim tapi bisa membiayai keluarganya, kemudian menjadi inspirasi bagi lingkungan sekitarnya,” tutupnya.





