
KUNINGAN – Proses pembangunan penggantian Tugu Bola Dunia di Jalan Baru Ir. Soekarno, Kabupaten Kuningan, menjadi patung kuda memicu kemarahan warga. Atang, salah satunya, mengaku akan membongkar jika prosesnya dilanjutkan.
Salah seorang warga Kelurahan Cipari, Kecamatan Cigugur, tersebut bahkan mendatangi langsung lokasi pembangunan, Jumat (4/9/2026). Ia meluapkan kekecewaannya bahkan tampak memukul bagian bangunan yang sudah terpasang.
Dengan nada tinggi, Atang mengkritik keputusan mengganti ikon tersebut. Ia menilai pemerintah seharusnya lebih memprioritaskan pembangunan yang menyentuh kebutuhan masyarakat dibanding menggelontorkan anggaran untuk proyek yang dinilainya tidak mendesak.
Kemarahan Atang semakin memuncak ketika berada di lokasi pembangunan. Sambil menggebrak area konstruksi, ia mempertanyakan kebijakan Bupati Kuningan, Dr. Dian Rachmat Yanuar yang mengganti Tugu Bola Dunia dengan patung kuda.
Ia juga menyinggung aspek sejarah dari keberadaan Tugu Bola Dunia yang sebelumnya menjadi salah satu ikon kawasan tersebut. Menurutnya, pemerintah semestinya menghargai gagasan dan peninggalan para pendahulu, termasuk almarhum Bupati Kuningan, Aang Hamid Suganda, yang disebut sebagai penggagas monumen tersebut.
“Silakan proyek ini lanjut, tapi saya peringatkan, atasnya kembalikan jadi Bola Dunia! Kalau tetap dipaksakan diganti patung kuda, saya ini orang proyek, saya bawa palu, saya gedor dan bongkar sendiri bangunan ini,” tegasnya dengan nada tinggi.
Tak berhenti pada kritik secara verbal, Atang kemudian memukul bagian bangunan menggunakan palu sebagai bentuk luapan kekesalannya.
Menurutnya, tindakan tersebut merupakan bentuk protes terhadap kebijakan pembangunan yang dianggap tidak memiliki urgensi dibanding persoalan masyarakat yang masih membutuhkan perhatian pemerintah.
Atang juga menyoroti anggaran pembangunan tugu yang disebutnya mendekati Rp200 juta. Ia mempertanyakan penggunaan anggaran tersebut di tengah masih banyaknya persoalan infrastruktur, terutama kerusakan jalan yang dikeluhkan masyarakat.
“Kalau memang pemerintah merasa sudah maksimal dari sisi infrastruktur, kenapa masih banyak teriak yang jalan-jalannya rusak? Baik itu di media Facebook, TikTok, dan sebagainya,” ujarnya.
Ia menilai pemerintah tidak cukup hanya menyodorkan data pencapaian pembangunan. Menurutnya, kondisi di lapangan harus menjadi ukuran utama dalam melihat keberhasilan pembangunan.
“Data itu tidak serta-merta langsung kita percaya. Tapi coba kita turun ke lapangan,” katanya.
Atang menegaskan, dirinya tidak mempersoalkan simbol kuda sebagai identitas Kabupaten Kuningan. Namun, ia mempertanyakan skala prioritas pemerintah dalam menentukan program pembangunan.
Menurutnya, pembangunan ikon daerah seharusnya berjalan beriringan dengan pembenahan infrastruktur dasar dan berbagai kebutuhan masyarakat.
Ia bahkan mendorong pemerintah melakukan efisiensi anggaran dengan memangkas belanja yang dinilai tidak terlalu mendesak untuk kemudian dialihkan kepada pembangunan yang lebih dibutuhkan masyarakat.
“Harus bisa terjadi. Sangat harus bisa terjadi. Pemangku kebijakan, taruhlah bupati, harus berani memangkas, mengefisienkan anggaran-anggaran yang dianggap tidak terlalu urgen,” tegasnya.
Baginya, polemik Tugu Bola Dunia bukan sekedar persoalan mengganti sebuah bangunan dengan ikon baru. Persoalan tersebut, menurutnya, menjadi gambaran tentang bagaimana pemerintah menentukan prioritas pembangunan.
Ia berharap slogan Kuningan Melesat tidak hanya menjadi jargon, tetapi benar-benar diwujudkan melalui kebijakan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Kalau merespons publik, menurut saya belum. Kuningan Melesat ini kan acuan Kuningan lima tahun ke depan,” tuturnya.





