CIREBON — Di balik tembok bata merah yang mulai berlumut, dentang waktu seolah melambat saat memasuki kompleks Keraton Kasepuhan Cirebon. Jumat, (16/1/2026), udara pagi di kota pesisir itu terasa lebih khidmat. Ratusan orang, mulai dari kerabat keraton berbusana adat hingga warga biasa berpeci, tampak berbondong-bondong menuju Bangsal Pringgadani. Mereka hadir untuk merawat sebuah ingatan kolektif yang telah berusia ratusan tahun yaitu Tradisi Rajaban.
Rajaban bukan hanya ritual tahunan kalender hijriah. Di Cirebon, ini adalah manifestasi dari pertemuan antara spiritualitas Islam dan kearifan lokal yang masih kukuh berdiri di tengah gempuran modernitas. Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW kali ini digelar dengan nuansa yang sedikit berbeda, namun tetap menjaga esensi sakralnya sebagai ruang refleksi perjalanan spiritual Rasulullah dari Masjidil Haram menuju Sidratul Muntaha.
Ada yang baru dalam penyelenggaraan tahun ini. Jika biasanya doa-doa Rajaban dilantunkan di dalam Langgar Alit yang sempit dan intim, kali ini keluarga besar keraton memutuskan untuk memindahkan prosesi ke Bangsal Pringgadani. Ruang utama keraton yang luas dan sarat ornamen ukiran kayu itu dipilih untuk menampung animo masyarakat yang kian membeludak.
Patih Sepuh Keraton Kasepuhan, Pangeran Raja Goemelar Soeryadiningrat, menyebut perpindahan lokasi ini adalah langkah pragmatis tanpa mengurangi nilai sakral. “Jumlah yang hadir semakin banyak setiap tahun. Agar semua bisa mengikuti rangkaian acara dengan nyaman dan khidmat, maka tahun ini kita laksanakan di Bangsal Pringgadani,” ujar Goemelar di sela-sela acara.
Bagi Goemelar, Rajaban adalah pengingat keras bagi umat Muslim tentang inti dari peristiwa Isra Mi’raj, perintah salat lima waktu. Di bawah langit-langit bangsal yang tinggi, pesan itu digaungkan kembali. Bukan sebatas narasi sejarah tentang perjalanan malam, melainkan tentang fondasi keimanan yang harus dijaga di tengah hiruk-pikuk dunia yang semakin cepat.
Ritual di Kasepuhan tak pernah lengkap tanpa simbolisme kuliner. Setelah lantunan doa dan ceramah keagamaan usai, aroma harum dari bungkusan daun pisang mulai menyeruak. Itulah Nasi Bogana, sajian khas yang menjadi “ruh” dalam setiap perayaan Rajaban di keraton.
Nasi bogana bukanlah hidangan mewah. Isinya sederhana, mulai dari nasi putih yang disandingkan dengan lauk pauk seperti tahu, tempe, kentang, dan parutan kelapa berbumbu. Namun, di balik kesederhanaan itu, tersimpan filosofi mendalam tentang kesetaraan. “Nasi bogana ini memiliki makna rasa syukur kepada Allah SWT. Ini simbol kebersamaan, kesederhanaan, dan doa,” tutur Goemelar.
