KUNINGAN – Ada dua kata yang sengaja dipertemukan dalam tema Hari Jadi ke-528 Kuningan: melesat dan mengakar.

“Melesat Ngudag Jaman, Ngakar Kuat Purwadaksi” menjadi tema yang dipilih Pemerintah Kabupaten Kuningan untuk menggambarkan arah pembangunan daerah di tengah perubahan zaman.

Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar mengatakan Kuningan tidak bisa menutup diri dari teknologi, modernisasi dan perubahan ekonomi. Tetapi kemajuan itu, menurut dia, tidak boleh membuat daerah kehilangan identitasnya.

“Melesat Ngudag Jaman” berarti bergerak mengikuti perkembangan zaman, termasuk membuka ruang bagi teknologi dan modernisasi.

Sedangkan “Ngakar Kuat Purwadaksi” menjadi pengingat agar pembangunan tetap bertumpu pada sejarah, budaya, nilai agama dan kearifan lokal Sunda-Kuningan.

Bagi Dian, dua hal tersebut tidak perlu dipertentangkan.

Daerah justru harus mampu menggunakan kemajuan zaman untuk memperkuat kekayaan yang telah dimiliki.

Salah satu contohnya terlihat dari sektor kebudayaan. Tahun ini, dua karya budaya asal Kuningan, yakni Kesenian Dogig dan Upacara Adat Pesta Dadung, ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Provinsi Jawa Barat.

Di tengah pembangunan ekonomi dan modernisasi, kebudayaan menjadi bagian yang tetap ingin dipertahankan.

Hal serupa terlihat dalam sektor keagamaan. Melalui program Ngaji Diri, pemerintah memberikan insentif kepada 1.000 guru ngaji dan beasiswa bagi 1.250 santri. Dukungan air bersih dan sanitasi juga diberikan kepada pesantren dan rumah ibadah.

Dian melihat pembangunan tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan ekonomi dan pembangunan fisik.

Karakter masyarakat, identitas daerah dan rasa memiliki terhadap Kuningan juga harus ikut tumbuh.

“Kuningan harus melesat tanpa pernah kehilangan akar kebudayaan kita,” kata Dian.

Pesan tersebut menjadi penting ketika teknologi bergerak semakin cepat. Perubahan sosial berlangsung hampir tanpa jeda, sementara budaya lokal berhadapan dengan arus budaya yang lebih luas.

Hari Jadi ke-528 kemudian tidak hanya menjadi penanda usia Kabupaten Kuningan. Ia juga menjadi kesempatan untuk bertanya: ketika daerah bergerak semakin cepat, apa yang harus tetap dibawa?

Jawaban pemerintah daerah adalah sejarah, budaya, agama dan nilai-nilai lokal. ***