KUNINGAN – Isu intoleransi harus menjadi perhatian penting semua pihak, termasuk jurnalis. Keberadaan media massa harus turut serta meminimalisir fenomena yang bertolak dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan.
Media masa harus turut serta membangun ekosistem keagamaan yang harmonis dan dinamika sosial yang sejuk. Karena itu, media massa juga harus senantiasa menyajikan informasi faktual.
Isu tersebut dibahas dalam kegiatan Live In Jurnalisme Konstruktif dan Kolaboratif Berbasis Komunitas. Acara dipusatkan di lingkungan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) di Desa Manislor, Kecamatan Jalaksana, Sabtu, (17/1/2026).
Dalam kegiatan itu hadir salah satu narasumber, Asep Saefullah sebahai jurnalis senior. Dalam paparannya, ia menjelaskan bagaimana peran media massa dalam memberitakan dinamika yang kompleks dan beragam. Menurutnya, media massa tidak hanya sekedar menjadi control kebijakan, lebih dari itu, dapat menjadi mediator khususnya di tengah konflik yang kompleks.
“Media harus konstruktif, seperti halnya menggelar dialog publik yang membahas mengenai isu sosial, menggelar workshop, serta kampanye sosial seperti gerakan donor darah lintas iman atau pelestarian lingkungan,” ujarnya.
Asep juga menekankan urgensi media dalam melakukan filterisasi saat menyediakan informasi. Menurutnya setiap data yang didapat harus disajikan dalam bentuk informasi yang faktual dan akurat serta menghindari subjektivitas.
