Selain itu, Asep juga menyinggung pentingya edukasi toleransi. Menurutnya, media merupakan penyampaian informasi yang harus mengedepankan aspek edukatif terhadap masyarakat.
“Media itu sebagai penjembatan, menjadi fasilitator dialog, terutama dalam keberagaman untuk mencari titik temu. Kemudian melawan hoaks, informasi yang disajikan harus atas dasar fakta dan edukasi toleransi sebagai wadah pengetahuan publik secara luas tentang nilai-nilai toleransi dan keberagaman,” tambahnya.
Sebagai penutup dalam pemaparan materi, ia menyampaikan narasi penguat serta penyemangat insan pers agar tidak kehilangan independensinya.
“Kolaborasi media dan komunitas agama bukan berarti media kehilangan independensinya. Justru, kedekatan ini adalah bentuk akuntabilitas media terhadap publik,” pungkasnya.
Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan diskusi interaktif antara narasumber dengan peserta, bahkan peserta dan peserta. Melalui diskusi itu, diharapkan pers dapat menjadi mediator dalam berbagai persoalan. (Icu)
