Selama masa jabatannya, Lena dikenal cukup vokal mendorong koperasi agar tidak hanya menjadi tempat simpan-pinjam konvensional, tetapi juga menjadi inkubator bagi pelaku UMKM. Namun, ia mengakui bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang tersisa, terutama terkait transformasi manajemen dan akses permodalan yang lebih modern.
“Sudah saatnya memberi ruang bagi kader-kader baru dengan gagasan segar. Siapa pun yang terpilih nanti, harus benar-benar berkomitmen memajukan UMKM. Koperasi harus menjadi rumah besar bagi pelaku usaha kecil,” tegasnya.
Musda yang akan digelar akhir Januari ini diprediksi bakal menjadi magnet bagi para penggiat ekonomi kerakyatan. Peserta yang terdiri dari perwakilan koperasi simpan pinjam, konsumen, produsen, hingga jasa, akan berkumpul untuk merumuskan arah kebijakan organisasi untuk lima tahun ke depan.
Tanpa adanya sosok Lena sebagai calon kuat, bursa ketua kini terbuka lebar bagi figur-figur baru. Forum ini diharapkan tidak hanya menjadi sekadar seremoni pergantian pengurus, melainkan momentum bagi Dekopinda Kuningan untuk bertransformasi menjadi lembaga yang lebih progresif dan relevan bagi kebutuhan anggotanya di era pasar bebas.
Hasil Musda pada 29 Januari mendatang akan menjadi jawaban, apakah gerakan koperasi di Kuningan mampu melahirkan kepemimpinan yang profesional atau terjebak dalam romantisme manajemen lama?. (ali)
