“Kita butuh sosok yang mumpuni, bukan hanya birokrat yang pandai mencari muka. Empat orang terpilih nanti haruslah mereka yang benar-benar bisa bekerja optimal dan sesuai dengan ekspektasi masyarakat yang makin kritis,” tambah sosok yang dikenal tajam dalam mengkritisi kebijakan daerah ini.
Bagi Mang Ewo, risiko terbesar dari salah pilih jabatan bukan hanya pada lambatnya penyerapan anggaran, melainkan pada rusaknya citra duet Dian-Tuti sebagai nakhoda eksekutif. Ia mengingatkan agar Pimpinan Daerah tidak memiliki “beban perasaan” untuk mengevaluasi, bahkan mencopot pejabat yang terbukti tidak becus di kemudian hari.
“Jika birokrat hasil manajemen talenta ini ternyata tak bisa kerja, Pimpinan tertinggi jangan ragu untuk segera mengganti. Membiarkan sosok yang menjadi trouble maker di posisi strategis hanya akan memperburuk reputasi Bupati dan Wakil Bupati di mata rakyat,” cetusnya.
Mang Ewo menutup analisisnya dengan peringatan keras: posisi pimpinan OPD adalah instrumen pelayan rakyat, bukan hadiah untuk orang-orang “pilihan” dalam arti sempit. Kini, publik Kuningan menunggu apakah 12 nama ini benar-benar membawa angin perubahan, atau sekadar wajah lama dalam kemasan sistem yang baru. ***
