Uha menilai, dukungan birokrasi yang loyal terhadap visi-misi bupati bukanlah bentuk politisasi. Sebaliknya, itu adalah kebutuhan administratif agar pelayanan publik berjalan optimal. Tanpa birokrasi yang “seirama” dengan program pembangunan bupati, target-target daerah hanya akan menjadi tumpukan dokumen di atas meja.
“ASN yang ditempatkan dalam jabatan struktural harus memiliki pola pikir maju dan orientasi pelayanan. Mutasi ini dilakukan agar seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) mampu mempercepat pencapaian target pembangunan, terutama di awal tahun anggaran seperti sekarang,” lanjut Uha.
Analisis terhadap daftar nama 149 pejabat yang dimutasi menunjukkan pola yang relatif stabil. Tidak ditemukan bukti kuat adanya “pembersihan” kelompok tertentu atau segregasi politik yang mencolok. Dian Rachmat Yanuar dinilai sedang mencoba menunjukkan sikap negarawan dengan menempatkan kepentingan publik di atas kepentingan kelompok pendukungnya.
Rumor balas dendam politik yang sempat berhembus sebelum mutasi pun seolah kehilangan bahan bakar. Komposisi pejabat yang dilantik lebih mencerminkan upaya penyegaran organisasi dan motivasi kinerja.
“Mencari persamaan, bukan memperbesar perbedaan. Itulah yang dibutuhkan Kuningan saat ini,” kata Uha.
Ia mengingatkan bahwa dinamika dan resistensi dalam setiap mutasi adalah hal yang wajar, namun tidak boleh ditarik ke dalam narasi konflik yang kontraproduktif bagi kemajuan daerah.
Meski klaim manajemen talenta ini terdengar menjanjikan, tantangan sesungguhnya baru saja dimulai. Mutasi perdana ini adalah ujian awal bagi komitmen reformasi birokrasi di Kabupaten Kuningan. Publik kini menanti, apakah struktur baru ini mampu mendongkrak performa pelayanan publik dan mempercepat pembangunan di tahun 2026?
Stabilitas organisasi di awal tahun anggaran memang memberikan ruang bagi pemerintah daerah untuk mengakselerasi program prioritas. Namun, konsistensi bupati dalam menjaga independensi manajemen ASN dari intervensi politik di masa depan akan tetap menjadi sorotan tajam.
Bagi para ASN Kuningan, mutasi ini adalah pengingat bahwa “kenyamanan” lama telah berakhir. Dengan sistem manajemen talenta, profesionalisme bukan lagi sebatas slogan, melainkan syarat mutlak untuk bertahan dan naik kelas dalam karier birokrasi.
Panggung di Kebun Raya Kuningan kemarin mungkin telah usai, namun mata publik akan terus mengawasi, apakah manajemen talenta ini akan menjadi warisan berharga Dian Rachmat, atau hanya jargon yang menguap seiring berjalannya waktu. (ali)
