Sementara itu, Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar yang hadir menutup rangkaian acara tersebut, seolah memberikan afirmasi terhadap gerakan yang dipimpin Rini. Dian mengingatkan hadirin bahwa ibu adalah madrasatul ula, sekolah pertama bagi setiap manusia. Dari rahim dan asuhan ibulah, nilai-nilai empati serta tanggung jawab pertama kali disemai sebelum anak mengenal bangku sekolah.
“Di balik setiap keberhasilan anak-anaknya, selalu ada doa seorang ibu yang tidak pernah putus. Hari Ibu adalah hari pulang ke hati, mengingat sosok yang telah membesarkan kita dengan kasih sayang tanpa syarat,” kata Dian, disambut tepuk tangan riuh para tokoh masyarakat dan pimpinan organisasi yang hadir.
Dian juga memberikan apresiasi khusus terhadap inisiatif teranyar GOW, yakni Gerakan Pekan Bersih-Bersih Lingkungan Masjid. Baginya, inisiatif ini menunjukkan kepekaan sosial perempuan Kuningan terhadap pusat peradaban umat. “Ketika masjid bersih, nilai spiritual dan sosial masyarakat juga ikut terjaga,” tambahnya.
Masih ditempat yang sama, Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kuningan, Yati U. Kusmana, dalam laporannya merinci bahwa Peringatan Hari Ibu ke-97 ini bukanlah acara semalam. Sejak November, telah bergerak masif. Mulai dari seminar dialog lintas iman untuk menjaga toleransi, hingga aksi kemanusiaan yang menyentuh fisik masyarakat.
Data menunjukkan, DWP telah mendistribusikan paket sembako kepada 270 penerima manfaat di Kecamatan Japara, melakukan pengobatan gratis, pemeriksaan ibu hamil, hingga skrining mata. Aksi-aksi ini menjadi bukti bahwa narasi “berdaya” yang diusung bukan sekadar jargon di atas spanduk.
Acara yang turut dihadiri Wakil Bupati Hj. Tuti Andriani dan Ketua TP PKK Hj. Ela Helayati ini menjadi saksi bahwa di Kuningan, Hari Ibu telah berevolusi. Ia bukan lagi hari untuk memberi kado, melainkan momentum untuk memperkuat fondasi sosial melalui tangan-tangan perempuan yang bergerak dengan penuh kesadaran kolektif. (ali)
