KUNINGAN — Di sebuah ruang rapat Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Kabupaten Kuningan yang lazimnya kaku dan penuh aroma birokrasi, sebuah panggilan menyeruak “Indung Kuring”. Sebutan itu tidak lahir dari surat keputusan formal, melainkan tumbuh secara organik dari bawah ke atas. Adalah Hj. Elit Nurlitasari, anggota Dewan Pengawas LPPL Kuningan dari unsur masyarakat, yang kini memikul beban julukan tersebut.
Dalam tradisi Sunda, Indung bukan sekadar ibu biologis; ia adalah pusat nilai, madrasah etika, dan “ruh” yang menjaga rumah agar tetap memiliki jatidiri. Di tengah hantaman disrupsi digital yang membuat anak muda lebih akrab dengan algoritma TikTok ketimbang kearifan lokal, Elit memilih jalan sunyi: menjadi penjaga gawang kebudayaan melalui frekuensi udara.
Anomali di Tengah Dominasi Maskulin
Lahirnya sapaan “Indung Kuring” bermula dari sebuah kebetulan yang puitis. Saat dilantik menjadi Dewan Pengawas, Elit merupakan satu-satunya perempuan di jajaran direksi dan pengawas yang didominasi laki-laki. Sikapnya yang membumi, penuh empati, namun tetap tajam dalam memberikan pengawasan, membuat para pegawai menyematkan gelar itu secara spontan.
“Indung itu bukan hanya melahirkan, tetapi mendidik, mengasuh, dan menjaga nilai agar tidak hilang ditelan zaman,” ujar Elit kepada cikalpedia.id, menggambarkan tanggung jawab moral yang kini hinggap di pundaknya.
Bagi publik Kuningan, sosok Elit bukanlah wajah baru. Ia adalah politikus perempuan yang pernah menghentak panggung Pemilihan Wakil Bupati Kuningan periode 2013–2018. Namun, bagi Elit, politik hanyalah salah satu instrumen. Kini, ia menemukan “medan tempur” yang jauh lebih krusial yaitu ruang kebudayaan.
Melawan Algoritma dengan “Unique Selling Point” Lokal
Di era di mana konten digital serba instan merajai layar ponsel, media publik seperti radio dan televisi lokal seringkali dipandang sebelah mata. Dianggap kuno, lambat, dan kehilangan relevansi. Namun, Elit justru melihat celah di balik pesimisme tersebut.
Ia berargumen bahwa kearifan lokal adalah unique selling point yang tidak akan pernah bisa diciptakan oleh algoritma global secanggih apa pun. Melalui LPPL, ia mendorong transformasi konten yang bersandar pada tiga pilar utama.
Pertama, Restorasi Bahasa Ibu. Elit gelisah melihat generasi muda Kuningan yang mulai gagap berbahasa Sunda sesuai undak-usuk (tata krama). Baginya, kehilangan bahasa adalah awal dari hilangnya etika. Kedua, ia menjadikan media publik sebagai Panggung Seniman Lokal. Seniman desa yang selama ini terpinggirkan oleh tren nasional harus mendapat tempat terhormat di frekuensi lokal.
