KUNINGAN – Tutut biasanya hanya berakhir di meja makan warga pedesaan. Di kawasan wisata Waduk Darma, Kabupaten Kuningan, keong air tawar itu mendapat peran berbeda: menjadi atraksi wisata sekaligus contoh bagaimana produk sederhana bisa menghasilkan nilai ekonomi.

Tutut diangkat dalam Festival Ngecrok Tutut Sajagat Sajedingna, bagian dari BUMDes Festival Jawa Barat 2026 di kawasan Waduk Darma, Minggu (30/8/2026).

Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar, melihat tutut sebagai contoh kecil dari persoalan yang lebih besar: banyak potensi desa tersedia, tetapi belum semuanya mampu diolah menjadi bisnis yang menghasilkan.

“Yang kecil, yang sederhana, yang unik ini akan menjadi istimewa,” kata Dian.

Menurut dia, kekuatan produk desa tidak selalu ditentukan oleh kemewahan barang. Kreativitas dalam pengolahan, kemampuan membaca pasar dan strategi pemasaran justru menjadi penentu apakah sebuah produk dapat berkembang.

Karena itu, Dian meminta Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) tidak berhenti pada pembentukan kelembagaan. BUMDes harus memiliki usaha yang berjalan dan menghasilkan manfaat bagi warga.

“Jangan hanya punya produk tetapi tidak punya pasar. Jangan hanya bisa membangun tetapi tidak bisa menjalankan. Jangan hanya hidup dari pasar lokal, kalau bisa regional, nasional, bahkan internasional,” ujarnya.

Ia bahkan mengkritik BUMDes yang hanya ada secara administratif.

“Jangan hanya sekadar ada, tapi menghasilkan. Banyak yang hanya papan nama, dibentuk karena keharusan, tetapi akhirnya dibentuk namun tidak berbentuk,” kata Dian.

Menurut dia, pengelolaan BUMDes membutuhkan sumber daya manusia yang memadai, tata kelola usaha, produksi yang konsisten dan pemasaran yang jelas. Pemerintah daerah, kata dia, dapat membantu membuka akses perizinan, permodalan, pasar, peningkatan kapasitas sumber daya manusia hingga penguatan merek produk desa.

Tutut dan Wajah Baru Wisata Waduk Darma

Dian juga melihat Festival Ngecrok Tutut Sajagat sebagai bagian dari upaya memperkaya pengalaman wisata di Waduk Darma.

Selama ini, kawasan tersebut dikenal karena lanskap waduknya. Namun, menurut Dian, wisatawan membutuhkan alasan lain untuk datang dan kembali. Kuliner khas daerah dapat menjadi salah satu jawabannya.

Tutut tidak lagi ditempatkan sekadar sebagai makanan rumahan, tetapi sebagai bagian dari atraksi yang mempertemukan kuliner, hiburan dan potensi masyarakat.

Sekretaris Daerah Jawa Barat, Herman Suryatman, sependapat. Ia menilai makanan lokal seperti tutut memiliki peluang untuk dikembangkan lebih jauh, termasuk sebagai bagian dari atraksi wisata.

Dari sisi pangan, Herman menyebut tutut memiliki potensi kandungan protein hewani. Namun, pengembangannya tetap harus memperhatikan keamanan pangan, kesehatan dan ketentuan sertifikasi dari instansi berwenang.

Menurut Herman, sebuah destinasi tidak cukup mengandalkan pemandangan. Ada tiga hal yang harus berjalan bersama: aksesibilitas, amenitas dan atraksi.

Akses menuju Kuningan dan Waduk Darma, kata dia, semakin terbuka. Adapun amenitas seperti homestay dapat tumbuh mengikuti jumlah wisatawan.

“Jangan sampai membuat banyak homestay tetapi tidak ada yang datang. Kalau banyak pengunjung, insyaallah homestay akan berkembang,” ujarnya.

Karena itu, pembangunan fasilitas wisata sebaiknya mengikuti pertumbuhan pasar, bukan sebaliknya. Kebersihan, keindahan dan ketertiban kawasan juga perlu dijaga. Seni dan budaya lokal, menurut Herman, dapat memperkuat alasan wisatawan berkunjung.

Jangan Berhenti di Festival

Herman mengingatkan agar BUMDes Festival Jawa Barat tidak berakhir ketika panggung dan stan dibongkar.

“Produk BUMDes bukan hanya mengadakan acara formalistik seperti ini. Yang paling penting adalah substantif, kelanjutannya seperti apa,” kata dia.

Ia mendorong kerja sama yang lebih kuat antara BUMDes, badan usaha milik daerah, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, kecamatan dan pemerintahan desa.

Kerja sama itu dibutuhkan agar produk desa memiliki akses yang lebih luas terhadap pasar, pembiayaan dan jaringan usaha.

Herman juga menyinggung persoalan yang kerap luput dalam pembicaraan mengenai ekonomi desa, yakni literasi keuangan.

Menurut dia, penguatan ekonomi tidak hanya dilakukan dengan meningkatkan pendapatan. Masyarakat juga perlu mampu mengendalikan pengeluaran dan memilih pembiayaan yang sehat.

“Pendapatan ditingkatkan, pengeluaran diminimalkan. Dua saja itu, dijamin masyarakat akan kuat ekonominya,” ujarnya.

Ia meminta pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perbankan, pemerintah daerah hingga pemerintahan desa ikut memberikan edukasi pengelolaan keuangan kepada masyarakat.

Herman menyebut pertumbuhan ekonomi Kuningan mencapai 6,98 persen pada 2025. Angka tersebut, menurut dia, merupakan modal untuk mempertahankan momentum pertumbuhan dan mengejar angka 7 persen.

Penguatan ekonomi desa melalui BUMDes menjadi salah satu instrumen yang dapat ikut menopang target tersebut.

Mempertemukan BUMDes dengan Pasar

BUMDes Festival Jawa Barat 2026 digagas Forum BUMDes Merah Putih (FBMP) DPD Kabupaten Kuningan bersama Jaringan BUMDes Nasional (Jarsanas).

Sekitar 50 stan BUMDes dan UMKM hadir dalam kegiatan itu. Festival juga diisi talkshow, jalan santai, pesta kuliner dan Festival Ngecrok Tutut Sajagat.

Ketua panitia sekaligus Direktur Jarsanas, Christian Kent, mengatakan kegiatan tersebut dirancang bukan sekadar menjadi ajang pertemuan antarpengelola BUMDes.

Festival, menurut dia, harus membuka jejaring usaha dan mempertemukan produk desa dengan pemerintah, perbankan, lembaga keuangan serta dunia usaha.

BUMDes dari berbagai daerah di Jawa Barat juga mendapat ruang untuk bertukar pengalaman dan menjajaki kerja sama.

“Seperti yang sering disampaikan, kita bukan lagi Superman, tetapi Superteam. Seluruh pemerintah pusat, provinsi dan daerah harus bergandeng tangan untuk sama-sama memajukan Indonesia dari desa,” kata Christian.

Pada akhirnya, tutut menjadi contoh paling mudah dari gagasan tersebut. Ia bukan komoditas mewah dan sejak lama sudah dikenal di dapur masyarakat desa. Yang berubah adalah cara melihatnya.

Ketika produk lokal dipertemukan dengan kreativitas, kemasan, atraksi dan pasar, sesuatu yang semula dianggap biasa dapat memiliki nilai ekonomi baru.

Dan di Waduk Darma, tutut sedang dicoba memainkan peran itu.

BUMDes Festival Jawa Barat 2026 turut dihadiri unsur Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Pemerintah Kabupaten Kuningan, Kementerian Desa dan Daerah Tertinggal, Jarsanas, Forum BUMDes Merah Putih, OJK, Bank Indonesia, perbankan, jajaran Forkopimda, perangkat daerah, pengelola BUMDes, pelaku UMKM serta perwakilan BUMDes dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Barat. ***