KUNINGAN – Angka pengangguran di Kabupaten Kuningan cukup memprihatinkan. Tidak hanya karena putus sekolah, jumlah tersebut justru mendapat sumbangan dari para sarjana atau lulus perguruan tinggi.
Berdasar data Badan Pusat Statistik Kuningan, yang diperbarui 17 Oktober 2025, pengangguran terbuka di tahun 2024 menunjukan sebanyak 2.153 orang dari unsur lulusan perguruan tinggi. Sedangkan secara keseluruhan data menunjukkan 48.106 dari berbagai lulusan. Angka tersebut merupakan hasil survey angkatan kerja nasional terhadap penduduk kategori usia 15 tahun ke atas.
Tingginya angka pengangguran tersebut menjadi sorotan publik, termasuk Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia. Ketua ICMI Orda Kuningan, Dr. Nanan Abdul Manan, tidak membantah penomena itu, dan justru menjadikannya sebagai PR yang harus disikapi lebih serius.
“Kondisi ini tentu menjadi PR kita bersama, tidak hanya ICMI saja,” tutur Nanan, saat podcast bersama Cikalpedia, Selasa (13/1/2026) silam.
Menurutnya, langkah awal untuk penekanan angka pengangguran harus dimulai dari penelitian atau tracer studi tentang kemampuan atau softskil yang dimiliki para lulusan secara individu. Kemudian, diperkuat kolaborasi supaya perusahaan atau dunia usaha bisa memberikan ruang untuk memberikan kesempatan bekerja bagi para lulusan.
“Termasuk pengurus ICMI yang memiliki potensi lapangan kerja agar bisa memberikan ruang bagi lulusan kuliah yang kini belum mendapatkan pekerjaan,” tuturnya.
Pihaknya juga mengaku, bahwa penomena itu sering menjadi dialog rutin secara non-formal. Termasuk di kampus, menurutnya, pola kerjasama dengan pihak dunia usaha atau industri menjadi prioritas, selain untuk pemenuhan tridarma, juga dalam rangka membuka jembatan karir para lulusannya.
“Bertambahnya lembaga pendidikan juga bagian yang tidak terpisahkan untuk menyerap lulusan guru, operator,” tuturnya.
Selain itu, pihaknya juga menyarankan para mahasiswa atau pemuda di Kuningan supaya memiliki kemampuan khusus, daya kreativitas, dan inovasi sesuai bidang keilmuan atau di luar itu. Menurutnya, hal tersebut menjadi salah satu upaya untuk menimalisir angka pengangguran akibat persaingan di dunia usaha atau industri yang sangat ketat.
“Bahkan, dengan langkah itu bisa memberikan ruang bagi para sarjana untuk menciptakan lapangan kerja baru. Tidak berorientasi jadi pekerja atau karyawan saja,” ungkapnya.
Sebagai mitra pemerintah, lanjutnya, ICMI Kuningan terus berupaya dan berkomitmen untuk memberikan ruang bagi para pemuda dan sarjana yang belum mendapat pekerjaan. Selain itu ICMI juga berkolaborasi membangun paradigma, penguatan mindset bertubuh, supaya tidak hanya berpikir tentang pekerjaan, tetapi mampu berpikir jauh tentang keberlanjutan karier.
“ICMI berperan sebagai penghubung antara lulusan dan peluang melalui masukan kebijakan, advokasi, serta pendampingan psikologis dan mental,” pungkasnya. (Icu)
