Data evaluasi pelaksanaan Operasi Keselamatan Lodaya tahun sebelumnya menjadi salah satu pijakan optimisme kepolisian. Pada 2025, tercatat 159 kasus kecelakaan lalu lintas, turun signifikan dibandingkan 333 kejadian pada 2024. Penurunan mencapai 52 persen. Jumlah korban meninggal dunia juga turun 59 persen, sementara korban luka ringan menurun 50 persen. Meski demikian, korban luka berat tercatat naik 12 persen.
Dede menilai data tersebut menunjukkan efektivitas pendekatan yang selama ini dijalankan. Namun, ia mengingatkan agar seluruh jajaran tidak lengah, terutama menjelang meningkatnya mobilitas masyarakat menuju Lebaran.
Operasi tahun ini menargetkan berbagai potensi gangguan lalu lintas, mulai dari pelanggaran, kemacetan, hingga kecelakaan. Fokus pengawasan diarahkan pada kendaraan angkutan umum, khususnya bus pariwisata dan kendaraan travel. Selain itu, kepolisian juga akan melakukan ramp check terhadap armada angkutan di lokasi-lokasi strategis dan kawasan dengan mobilitas tinggi.
Pengawasan dilakukan baik di jalan tol maupun jalan arteri yang menjadi kewenangan Polri. Seluruh wilayah hukum Polda Jawa Barat masuk dalam cakupan operasi ini.
Dalam arahannya, Wakapolres menekankan pentingnya profesionalisme dan sikap humanis di lapangan. Ia meminta personel menghindari tindakan arogan dan kontraproduktif, serta mengutamakan keselamatan diri dan pengguna jalan.
“Kehadiran Polri harus memberi rasa aman dan nyaman bagi masyarakat. Laksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab,” kata Dede.
Operasi Keselamatan Lodaya 2026 menjadi bagian dari rangkaian pengamanan menjelang Operasi Ketupat Lodaya, yang akan digelar saat puncak arus mudik dan balik Lebaran. Melalui operasi ini, kepolisian berharap situasi lalu lintas di Cirebon dan Jawa Barat secara umum dapat berlangsung lebih tertib, aman, dan selamat. (frans)
