Guru juga menduduki posisi yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Menurut al-Ghazali, guru yang ideal adalah guru yang menjadi teladan moral, pembimbing spiritual, sekaligus mentransfer ilmu kepada murid. Kasih sayang guru kepada murid harus seperti seorang ayah kepada anaknya.
Namun pada kenyataan di era digital saat ini, posisi guru disingkirkan bahkan digantikan dengan teknologi. Jelas hal ini bertentangan dengan al-Ghazali karena sejatinya pendidikan itu butuh proses sentuhan manusiawi, keteladanan, empati, dan bimbingan moral dari sang guru.
Dengan demikian, pendidikan Islam ala Imam Al-Ghazali merupakan sistem pendidikan yang menyatukan akal, hati, dan iman. Pemikirannya mengajarkan bahwa ilmu harus melahirkan kebijaksanaan, dan pendidikan harus melahirkan manusia yang berilmu, beriman, serta berakhlak.
Di tengah tantangan moral dan krisis spiritual abad ke-21, gagasan Al-Ghazali menjadi sangat relevan untuk membangun kembali pendidikan yang humanis, beradab, dan berorientasi pada nilai-nilai Ilahiah.*
Ditulis oleh: Tsamrotul Fuady, Mahasiswa UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon
