Sayangnya, hingga kini retret pejabat lebih sering menghasilkan laporan internal ketimbang perubahan nyata. Tidak ada tolok ukur yang jelas, tidak ada indikator kinerja pascaretretnya yang diumumkan kepada publik. Dalam situasi seperti ini, retret berpotensi menjadi pemborosan yang dilegalkan oleh jargon peningkatan kapasitas aparatur.
Ironi semakin terasa ketika efisiensi justru menyasar sektor yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Anggaran pendidikan, kesehatan, dan bantuan sosial diminta berhemat, sementara ruang bagi kegiatan elitis tetap terbuka. Pesan yang sampai ke publik pun menjadi kontradiktif: rakyat diminta sabar, pejabat tetap nyaman.
Padahal, refleksi dan konsolidasi tidak harus mahal. Dengan kemajuan teknologi, koordinasi dapat dilakukan secara sederhana, berbasis kinerja, dan minim biaya. Evaluasi lapangan langsung ke daerah bermasalah justru lebih relevan dibanding diskusi tertutup di lokasi terpencil.
Jika efisiensi anggaran ingin dipercaya publik, maka keteladanan pejabat adalah kuncinya. Retret yang tidak mendesak, tidak transparan, dan tidak berdampak nyata seharusnya menjadi pos anggaran pertama yang dievaluasi, bukan malah dilaksanakan.
Pada akhirnya, di tengah tuntutan efisiensi, retret pejabat harus memilih satu dari dua wajah: menjadi instrumen perubahan nyata atau simbol pemborosan negara. Publik menunggu bukan janji refleksi, melainkan bukti kerja.
