KUNINGAN — Selasa pagi di SDN 2 Bayuning, Kecamatan Kadugede, Kabupaten Kuningan, tak berjalan seperti biasa. Sepi yang biasa menyelimuti koridor sekolah saat jam pelajaran mendadak luruh. Di halaman sekolah, deretan kursi plastik terisi penuh oleh guru, murid, dan para orang tua yang datang mengenakan pakaian terbaik mereka.

Lantunan selawat menggema, menandai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada Selasa (8/9/2026). Namun, riuh paling hangat sebenarnya sudah memuncak sejak sehari sebelumnya, saat panggung sederhana di sudut lapangan disulap menjadi ajang fashion show busana muslim.

Satu per satu anak melangkah. Ada yang berjalan kaku sambil memegangi ujung bajunya, ada yang melemparkan senyum malu-malu, tetapi tak sedikit pula yang melangkah mantap menirukan gaya model profesional. Di tepi panggung, para ibu tak berhenti mengabadikan momen itu lewat layar ponsel masing-masing. Gelak tawa dan tepuk tangan bergemuruh setiap kali seorang anak memberanikan diri berpose di hadapan penonton.

“Melihat anak sendiri berani naik ke panggung dan tersenyum percaya diri itu rasanya beda. Ada rasa bangga yang pelan-pelan merayap,” tutur salah seorang orang tua murid yang sengaja meluangkan waktu hadir di sekolah.

Rangkaian acara yang dihela sejak Senin (7/9/2026) ini memang sengaja dirancang tak sekadar menjadi ritual tahunan yang kaku. Selain fashion show, riuh kreativitas anak-anak membanjiri sudut-sudut kelas melalui lomba kaligrafi untuk kelas tinggi, mewarnai kaligrafi untuk murid kelas rendah, hingga gema lomba azan yang menguji keberanian mental mereka di depan publik.

Kepala SDN 2 Bayuning, Titin Suhartini, mengungkapkan bahwa pendekatan kreatif ini sengaja dipilih agar nilai-nilai keteladanan Rasulullah tidak berhenti sebagai ceramah yang dihafal di kepala, melainkan diresapi lewat pengalaman langsung.

“Kami ingin memberi ruang di mana bakat, keberanian, dan karakter anak bisa tumbuh bersamaan. Anak-anak perlu merasa dihargai atas upaya kecil mereka,” kata Titin.

Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) SDN 2 Bayuning, Fajar, menambahkan bahwa kecintaan kepada Nabi perlu ditanamkan dengan cara yang mendekatkan, bukan menjauhkan. Suasana gembira menjadi kunci agar ingatan masa kecil mereka tentang peringatan keagamaan selalu hangat.

“Melalui jemari yang mewarnai, vokal yang mengumandangkan azan, hingga langkah kaki di panggung fashion show, mereka belajar nilai keberanian dan syiar dengan cara yang menyenangkan,” ujar Fajar.

Di balik riuh tepuk tangan dan warna-warni busana, perayaan Maulid di desa kecil ini menyimpan pesan yang lebih dalam. Tepuk tangan dari orang tua dan tatapan bangga seorang ibu di pinggir lapangan bukan sekadar apresiasi instan. Bagi seorang anak SD, divalidasi oleh orang-orang terdekatnya adalah bahan bakar utama untuk membangun rasa percaya diri hingga mereka dewasa nanti. ***