KUNINGAN — Ancaman kerusakan lingkungan membayangi kehidupan generasi mendatang jika pemanfaatan sumber daya alam terus dilakukan tanpa memikirkan keberlanjutan. Peringatan ini ditegaskan Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar saat menghadiri Gelar Budaya Sedekah Bumi di Desa Wisata Cibuntu, Kecamatan Pasawahan, Minggu (18/10/2026).

Dian menegaskan, tradisi leluhur seperti Sedekah Bumi tidak boleh berhenti sekadar sebagai seremoni tahunan. Nilai spiritual dan kebudayaan di dalamnya harus ditransformasikan menjadi aksi nyata menjaga ekosistem.

“Bumi, langit, pohon, dan air bukanlah warisan. Ini adalah titipan yang harus kita titipkan kembali kepada anak cucu kita,” ujar Dian.

Dian juga mengingatkan, eksploitasi alam yang tak terkendali berpotensi merenggut akses masyarakat terhadap kebutuhan dasar paling mendasar, seperti udara bersih dan air jernih. Maka dari itu, perlindungan terhadap alam menjadi tanggung jawab kolektif seluruh elemen masyarakat, bukan semata-mata beban pemerintah.

Dari sudut pandang spiritual, Dian memandang Sedekah Bumi sebagai ruang refleksi untuk mengagungkan Allah SWT atas kelimpahan rezeki, sekaligus menyadarkan manusia akan keterbatasannya dalam mengendalikan alam. Nilai-nilai lokal ini dinilai sangat relevan menjadi fondasi benteng ekologis di tengah gempuran modernisasi.

Transformasi Cibuntu: Dari Lokasi Galian Jadi Desa Wisata Dunia

Pentingnya menjaga keseimbangan alam dibuktikan langsung oleh rekam jejak Desa Cibuntu. Dian mengenang, puluhan tahun silam kawasan ini dikenal gersang dan gundul akibat aktivitas penambangan galian C.

Namun, lewat komitmen panjang para tetua desa dan kegotongroyongan warga, Cibuntu berhasil merehabilitasi lingkungannya hingga menjelma menjadi desa wisata berprestasi di tingkat internasional.

Dian berpesan agar capaian tersebut tidak membuat masyarakat lengah. Dia meminta warga mempertahankan filosofi Sunda silih asah, silih asih, silih asuh, serta memegang teguh prinsip someah hade ka semah, bersikap ramah dan hangat kepada setiap tamu yang datang.

“Keramahan warga dan kelestarian alam adalah jiwa dari pariwisata berkelanjutan. Wisatawan datang bukan cuma mencari pemandangan, tapi juga pengalaman dan kehangatan interaksi,” ungkap Dian.

Kesiapan menjaga alam ini makin krusial mengingat Desa Cibuntu diproyeksikan menjadi salah satu perlintasan utama ajang lari lintas alam (trail run) bertaraf internasional pada awal 2027 mendatang. Agenda skala dunia ini diprediksi menyedot ribuan pengunjung, yang menuntut kesiapsiagaan warga dalam mengelola kebersihan dan daya dukung lingkungan.

Di akhir pesannya, Dian menggarisbawahi bahwa tolok ukur pembangunan wilayah tidak boleh sekadar diukur dari beton dan aspal.

“Pembangunan sejatinya bukan hanya sekadar berbicara soal jalan yang mulus atau gedung yang megah. Pembangunan sejatinya adalah ketika kita bisa menghadirkan senyuman Masyarakat, mereka merasa bahagia dan terperhatikan,” tegasnya.

Filosofi ‘Sabumi’ dan Wadah Kehidupan

Sementara itu, Kepala Desa Cibuntu Dadi Kurniadi menjelaskan, masyarakat setempat mengenal tradisi Sedekah Bumi dengan istilah Sabumi. Secara etimologi, sa berarti satu, dan bumi merujuk pada ruang atau wadah kehidupan.

Filosofi ini mengajarkan kesederhanaan dan kepasrahan manusia sebagai makhluk yang mendiami pijakan yang sama.

“Tradisi Sabumi ini diselenggarakan sebagai bukti pengakuan bahwa semua manusia berada dalam satu wadah, tercipta dari asal-usul yang sama, mengonsumsi pangan dan papan dari bahan yang sama, dan kelak akan kembali ke tempat yang sama,” kata Dadi.

Bagi warga Cibuntu, ritual tahunan ini menjadi momentum merekatkan kebersamaan sosial sekaligus meneguhkan komitmen: bahwa memajukan pariwisata lokal tak boleh menumbalkan identitas budaya dan kelestarian tanah kelahiran. ***