Iip juga mengangkat program Muatan Lokal Gunung Ciremai, sebagai bentuk penguatan identitas budaya dan literasi lingkungan bagi generasi muda. Kurikulum ini menjadi bagian dari misi pendidikan yang lebih holistik dan kontekstual.
“Mulok Gunung Ciremai tak sekadar pelajaran alam. Ini tentang sense of belonging dan pelestarian budaya sejak dini. Literasi juga soal cinta pada tanah kelahiran,” kata Iip.
Dalam aksi simbolik, Iip bersama para pejabat lainnya turut memainkan congklak, permainan tradisional yang sarat nilai edukatif dan kebudayaan. Ia juga menyumbangkan bukunya berjudul “Akar” sebagai koleksi perdana Pojok Literasi.
Katumbiri: Warna-warni Literasi dari Kampung
Rani Tania Pratiwi, penggagas Taman Pelangi, menyampaikan bahwa “Katumbiri” diambil dari Bahasa Sunda yang berarti pelangi. Ia berharap taman ini terus menjadi tempat tumbuh dan berkembangnya budaya baca, diskusi, dan karya warga dari kampung.
“Kami ingin Taman Pelangi memberi warna indah bagi pendidikan di Kuningan. Sesuai misi nasional: Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, dan Kuasai Bahasa Asing,” ujar Rani.
Ia juga menegaskan slogan taman: “Berkarya dengan Literasi”, yang menjadi pengingat bahwa membaca bukan sekadar aktivitas hobi, melainkan pondasi perubahan sosial.
Dari Kuningan, untuk Indonesia
Festival Katumbiri dan Taman Pelangi membuktikan bahwa transformasi pendidikan tak harus bermula dari ruang kelas. Ia bisa tumbuh dari semangat komunitas, kegigihan relawan, dan mimpi sederhana untuk mengubah masa depan lewat buku dan diskusi.
Dari kampung di kaki Ciremai, gerakan literasi ini jadi inspirasi nasional. Karena di tengah derasnya hoaks, harapan justru bisa lahir dari pojok kecil bernama Taman Pelangi. (ali)
