KUNINGAN – Kekeringan akibat musim kemarau yang cukup panjang tidak hanya dirasakan masyarakat Kuningan wilayah timur. Tidak jauh dari Waduk Darma dan lereng Gunung Ciremai, warga Cikupa juga merasakan efek tersebut.

Hal itu diakui Kepala Bagian Kesra Setda Kuningan, Emup Muplihudin. Pejabat yang merupakan warga Desa Cikupa, Kecamatan Darma itu mengaku sudah beberapa pekan ini merasakan berkurangnya ketersediaan air untuk kebutuhan sehari-hari.

Menurutnya, sumur sebagai sumber air yang dimiliki warga banyak yang mengering. Atau paling tidak, debit airnya menyusut jauh dari sebelumnya. Masyarakat harus menunggu air sumur kembali penuh atau minta ke warga lainnya ketika membutuhkan.

“Kalau kekeringan (seperti Kuningan timur/red) sih belum, tapi kekurangan air. Sudah beberapa minggu,” tuturnya, Kamis (27/8/2026)

Tidak hanya menyaksikan masyarakat, kesulitan sumber air bersih dirasakan juga olehnya beserta keluarga. Setiap hari, dirinya disibukan dengan pencarian air karena sumur yang dimilikinya menyusut drastis. Kalaupun ada, hanya sedikit dan cukup satu kali pompa.

“Saya juga ngambil dari mertua. Setiap tiga hari bawa beberapa galon,” tuturnya.

Di tengah kondisi tersebut, solidaritas antar warga menjadi salah satu kekuatan masyarakat Desa Cikupa. Warga yang sumurnya masih memiliki persediaan air mempersilakan warga lain yang mengalami kekurangan untuk mengambil air.

“Alhamdulillah di kami toleransinya bagus. Mereka yang kekurangan air, dipersilakan untuk mengambil dari yang airnya cukup,” ujarnya.

Selain mengandalkan sumber air yang masih tersedia, Emup menyebut masyarakat juga tengah merencanakan pelaksanaan salat istisqa sebagai ikhtiar meminta hujan. Kegiatan tersebut direncanakan berlangsung pada pekan pertama September.

“Rencananya sekitar minggu pertama September,” ungkapnya.

Ia berharap hujan segera turun sehingga debit sumber air masyarakat kembali meningkat. Karena hal itu ia juga mengingatkan bahwa kondisi kemarau menjadi pengingat bahwa persoalan air dapat dirasakan siapa saja tanpa memandang status sosial maupun jabatan.

“Jangan mentang-mentang pejabat. Saya juga merasakan,” katanya sembari tertawa.

Kondisi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa persoalan kekurangan air mulai menjadi perhatian serius di tingkat masyarakat. Ketika sumber air terus menyusut, warga pun harus melakukan berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk mengangkut air dari sumber lain.

Baginya, yang terpenting saat ini menjaga kebersamaan dan kepedulian antar warga sembari menunggu datangnya hujan.