KUNINGAN — Bursa calon Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Kuningan mulai memperlihatkan wajahnya. Hingga hari terakhir pengambilan formulir, Rabu (28/10/2026), baru satu nama yang tercatat mengambil formulir pencalonan, yakni Ela Helayati.

Situasi ini menyisakan pertanyaan, apakah persaingan akan berhenti pada satu nama, atau ada figur lain yang bersedia masuk gelanggang?

Salah satu nama yang berpotensi diperhitungkan adalah Lena Herlina. Sosok pengusaha perempuan di Kabupaten Kuningan itu dikenal aktif di berbagai organisasi dan memiliki pengalaman dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.

Namun, sampai batas waktu pengambilan formulir hari ini, belum ada kepastian apakah Lena akan ikut mengambil formulir pencalonan. Namanya masih berada dalam wilayah kemungkinan, bukan daftar calon yang telah terkonfirmasi.

Di tengah dinamika tersebut, perhatian publik juga tertuju pada Ela Helayati, yang disebut sebagai istri Bupati Kuningan. Kedekatan dengan lingkaran kekuasaan bisa menjadi bahan perbincangan, tetapi jabatan Ketua PMI pada akhirnya menuntut kapasitas mengelola organisasi kemanusiaan, membangun jejaring donor, serta memastikan pelayanan berjalan tanpa terseret kepentingan di luar misi kemanusiaan.

Pengamat Kuningan, Sujarwo, yang akrab disapa Mang Ewo, menilai dinamika pencalonan ini menarik dicermati, terutama untuk melihat sejauh mana figur-figur potensial bersedia mengambil bagian dalam kontestasi.

Pertanyaan mengenai kemungkinan Lena Herlina maju menjadi relevan bukan semata karena latar belakangnya sebagai pengusaha perempuan yang aktif berorganisasi. Kehadirannya, jika benar terjadi, dapat membuka ruang kompetisi sekaligus menghadirkan pilihan bagi pemilik suara dalam menentukan kepemimpinan PMI Kuningan.

Dalam pemilihan organisasi, memiliki pengalaman dan jaringan belum tentu berujung pada keputusan untuk maju. Ada pertimbangan yang harus ditimbang, mulai dari kesiapan memimpin, dukungan pemilik suara, hingga kesanggupan menjalankan tanggung jawab organisasi.

Karena itu, pertanyaan apakah Lena berani mengambil formulir bukan sekadar soal keberanian personal. Publik juga menunggu apakah figur-figur yang dinilai memiliki kapasitas bersedia menguji dukungan secara terbuka.

PMI bukan organisasi yang bisa dinilai hanya dari siapa yang memimpin atau seberapa dekat seseorang dengan pusat kekuasaan. Organisasi ini berhadapan dengan pekerjaan yang konkret: menjaga ketersediaan darah, memperkuat jejaring pendonor, meningkatkan kesiapsiagaan bencana, serta memastikan bantuan kemanusiaan sampai kepada mereka yang membutuhkan.

Jika hingga penutupan hanya satu nama yang mengambil formulir, dinamika pemilihan tentu berbeda dibandingkan jika muncul kandidat lain. Namun, mengambil formulir juga belum otomatis menjadikan seseorang calon definitif. Tahapan berikutnya tetap bergantung pada ketentuan dan proses pemilihan yang berlaku.

Kini, menjelang berakhirnya waktu pengambilan formulir, pertanyaan yang tersisa sederhana: apakah akan muncul nama lain, atau Ela Helayati menjadi satu-satunya figur yang mengambil langkah awal?

Jawabannya bukan hanya menentukan peta kontestasi Ketua PMI Kuningan. Lebih dari itu, proses ini akan menjadi kesempatan untuk menguji apakah pemilihan kepemimpinan organisasi kemanusiaan berlangsung dengan ruang kompetisi yang terbuka dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat. ***