
KUNINGAN — Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai dan menyebarkan informasi di tengah derasnya arus media sosial.
Menurut Dian, tantangan literasi saat ini bukan lagi sekadar kemampuan membaca dan mendapatkan informasi. Masyarakat harus mampu membedakan informasi, pengetahuan, kebijaksanaan hingga kebenaran.
Pesan itu disampaikan Dian saat membuka Festival Literasi Kabupaten Kuningan 2026 di Perpustakaan Umum Daerah Kuningan, Kamis (8/10/2026).
Festival yang mengusung tema “Tenggelam dalam Literasi, Terbit Generasi Berprestasi” tersebut menjadi momentum Pemkab Kuningan mendorong budaya membaca sekaligus memperkuat kemampuan masyarakat dalam menghadapi derasnya informasi digital.
“Sekarang bukan lagi bagaimana mendapatkan informasi, bagaimana mengakses informasi. Tetapi bagaimana membedakan informasi dengan pengetahuan, pengetahuan dengan kebijaksanaan, dan yang terpenting kebijaksanaan dengan kebenaran,” kata Dian.
Menurutnya, perkembangan teknologi telah membuat arus informasi bergerak sangat cepat. Sebuah kejadian di daerah bahkan dapat diketahui masyarakat di belahan dunia lain hanya dalam hitungan detik.
“Dengan hitungan detik hari ini kejadian di Talaga bisa sampai ke Singapura, bisa sampai ke New York. Hari ini pembaca bisa sekaligus menjadi pembuat informasi. Itu yang paling bahaya,” ujarnya.
Karena itu, Dian meminta masyarakat membiasakan diri memeriksa fakta dan data sebelum mengambil kesimpulan.
Dian mencontohkan informasi mengenai persoalan lingkungan yang dapat berkembang menjadi kesimpulan berbeda ketika tidak disertai pemeriksaan terhadap fakta.
“Lain ceuk beja, lain ceuk tukang anu teu apal nanaon. Data itu penting,” tegasnya.
Bagi Dian, kemampuan literasi harus membuat seseorang mampu memahami informasi secara utuh, berpikir kritis dan mengambil keputusan secara bijak.
“Literasi yang baik bukan hanya sekadar membaca saja, bukan hanya ngapalkeun. Tapi bagaimana kita dan anak-anak kita memahami isi dunia, perubahan yang terjadi, mengambil kebenaran, mengambil kebijaksanaan, memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk, serta menghadirkan gagasan-gagasan untuk menghadirkan sebuah perubahan,” ungkapnya.
Tenggelam Bukan Berarti Kehilangan Arah
Dian juga menjelaskan makna tema Festival Literasi Kuningan tahun ini.
Menurutnya, kata “tenggelam” bukan menggambarkan seseorang yang kehilangan arah. Sebaliknya, tenggelam dalam literasi berarti menyelami ilmu dan pengetahuan secara mendalam.
“Tenggelam itu bukan tilelep, bukan kehilangan arah, bukan tidak berdaya. Tetapi menyelami pengetahuan sedalam-dalamnya,” jelasnya.
Dari proses tersebut, kata Dian, akan lahir pemahaman yang kemudian berkembang menjadi gagasan, karya dan prestasi.
“Dari pemahaman itu lahir gagasan. Dari gagasan lahir karya. Dari karya lahir prestasi. Dari prestasi lahir sebuah generasi yang paham tentang harus berbuat apa untuk memberikan manfaat bagi orang lain,” tuturnya.
Ia menilai pembangunan Kuningan tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan fisik.
Jalan, jembatan, gedung dan teknologi memang penting, tetapi seluruh pembangunan tersebut harus berjalan beriringan dengan pembangunan manusia.
“Sebuah daerah mungkin bisa membangun jembatan, gedung, membuat jalan-jalan mulus, apalagi kantor-kantor yang indah dan teknologi yang semakin canggih. Tapi sebetulnya membangun sebuah bangsa diawali dari bagaimana membuat pola pikir anak-anak kita berpikir tentang masa depan,” katanya.
Dian menegaskan, Kuningan membutuhkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki karakter, kreativitas dan daya pikir kritis.
“Kita tidak sedang membangun generasi yang pintar. Kita sedang membangun generasi yang berkarakter, cerdas, berpikir, berdaya cipta, berkreasi dan berprestasi,” tegasnya.
Literasi Dimulai dari Rumah
Dian juga mengajak keluarga menjadi lingkungan pertama dalam membangun budaya literasi.
Menurutnya, anak tidak cukup hanya diperintah membaca. Orang tua harus memberikan contoh secara langsung agar membaca menjadi kebiasaan.
“Jadi mari kita tumbuhkan budaya literasi tidak hanya di sekolah, tetapi di rumah,” katanya.
Ia pun menceritakan kebiasaannya mengenalkan buku kepada anak-anak sejak kecil, termasuk dengan mengajak mereka mengunjungi toko buku dan membiasakan membaca.
Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat Kusmana Hartadji mengatakan, literasi pada era digital memiliki cakupan yang jauh lebih luas daripada sekadar membaca dan menulis.
Ia menilai perpustakaan harus hadir langsung di tengah masyarakat dan berkembang menjadi ruang kolaborasi.
“Pustakawan harus turun ke lapangan. Yang terpenting 70 persen pelayanan, sarana prasarana cukup 30 persen saja,” ujarnya.
Kusmana juga mendorong perpustakaan menjadi ruang belajar, bertukar pengalaman, membangun komunitas hingga melahirkan gagasan baru.
Ia merumuskan tiga prinsip bagi pustakawan, yakni terlibat, bersinergi dan berdampak.
“Literasi itu membawa kesejahteraan. Bukan hanya berperan dalam literasi, tetapi juga secara ekonomi dapat meningkatkan pendapatan masyarakat,” tegasnya.
Festival Literasi Kuningan 2026 berlangsung 8–11 Oktober dengan berbagai kegiatan, mulai workshop mendongeng, bedah buku, lomba menggambar, festival band, screening film, bazar buku hingga berbagai kompetisi literasi.
Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kuningan juga mencatat dukungan masyarakat melalui donasi lebih dari 1.400 judul buku.
Dalam kegiatan tersebut, Bupati Dian turut mengukuhkan Hj. Ela Helayati, S.Sos. sebagai Bunda Literasi Kabupaten Kuningan 2026. Selanjutnya, 15 Ketua Tim Penggerak PKK kecamatan dikukuhkan sebagai Bunda Literasi Kecamatan.
Dian berharap gerakan literasi tidak berhenti setelah festival selesai.
“Mari kita tenggelam lebih dalam untuk lautan ilmu. Agar dari sana kelak terbit generasi muda yang berprestasi, berkarakter, berbudaya, mencintai Kuningan untuk membangun, mencintai Kuningan untuk lebih maju,” ujarnya. ***





