“Awalnya kami kaget. Tapi ternyata itu pengantar MBG. Anak-anak justru sangat antusias. Suasana jadi cair dan menyenangkan,” kata Heni.
Menurut dia, kreativitas semacam itu berdampak langsung pada mood siswa. Anak-anak lebih ceria, lebih bersemangat mengikuti kegiatan belajar, dan tidak canggung saat menerima makanan. Hal yang terlihat sepele, kata Heni, justru punya pengaruh besar terhadap iklim sekolah.
Selain memenuhi kebutuhan gizi untuk mendukung tumbuh kembang dan konsentrasi belajar, Program MBG dinilai berhasil menghadirkan pendekatan humanis dalam pelayanan publik. Inovasi kecil di lapangan menunjukkan bahwa program pemerintah tidak melulu soal distribusi logistik, tetapi juga soal empati dan kebahagiaan penerima manfaat.
“Alhamdulillah, selama ini makanan selalu habis. Kalau ada kendala, kami langsung sampaikan ke pengelola dapur,” tutur Heni.
Kisah daster emak-emak di balik Makan Bergizi Gratis ini menjadi potret bagaimana kreativitas di tingkat pelaksana dapat memperkaya makna sebuah program nasional. Di tangan para pengantar, makan gratis bukan hanya soal gizi, tetapi juga tentang senyum dan rasa aman bagi anak-anak di sekolah. (Ali)
