Model yang akan diterapkan di Kuningan, menurut Dian, mengacu pada konsep boarding school. Seluruh kebutuhan siswa, mulai dari asrama, makan bergizi tiga kali sehari, seragam, hingga perlengkapan belajar akan ditanggung negara. Pemerintah daerah, kata dia, tinggal memastikan kesiapan lahan, dukungan administratif, serta integrasi dengan kebijakan daerah.
Namun, di balik optimisme itu, tantangan tak kecil menanti. Pengalaman berbagai program nasional menunjukkan bahwa implementasi di daerah kerap tersandung persoalan teknis, mulai dari kesiapan anggaran pendamping, kualitas sumber daya manusia, hingga kesinambungan pengelolaan pasca-seremonial. Hingga kini, belum ada penjelasan rinci mengenai skema pembiayaan jangka panjang dan pembagian kewenangan antara pusat dan daerah.
Presiden Prabowo sendiri menekankan bahwa Sekolah Rakyat bukan hanya proyek fisik. Ia menyebutnya sebagai proyek “panggilan hati”, yang diukur bukan dari jumlah gedung yang berdiri, melainkan dari mobilitas sosial yang tercipta.
“Saya ingin anak tukang pemulung bisa menjadi insinyur, dokter, pengusaha, bahkan jenderal,” ujar Prabowo, disambut tepuk tangan peserta acara.
Standar nasional Sekolah Rakyat, sebagaimana dilaporkan Menteri Sosial Saifullah Yusuf, akan memprioritaskan anak-anak dari keluarga sektor informal dengan mekanisme seleksi berbasis data sosial terpadu.
Di atas kertas, skema ini menjanjikan pemerataan akses pendidikan. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada validitas data kemiskinan dan ketepatan sasaran di tingkat daerah.
Bagi Kuningan, masuknya daerah ini dalam tahap awal pembangunan Sekolah Rakyat bisa menjadi titik balik atau sebatas episode seremonial, tergantung pada konsistensi pelaksanaan. Dengan keterbatasan fiskal daerah dan beban pelayanan publik yang sudah berat, program ini akan menjadi ujian nyata kemampuan pemerintah daerah menerjemahkan visi besar pusat ke dalam kerja-kerja konkret di lapangan.
Jika berhasil, Sekolah Rakyat bisa menjadi jalur baru mobilitas sosial warga miskin Kuningan. Jika gagal, ia berisiko menambah daftar panjang proyek nasional yang berhenti pada papan nama dan pidato peresmian. (Ali)
